BAB I
PENDAHULUAN
I.1.
Latar Belakang
Dalam
kehidupan sehari hari maupun berbangsa dan bernegara kita akan selalu
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Dan sebagai rakyat Indonesia yang
hormat pada bangsa dan negara kita harus selalu memakai bahasa Indonesia. Dalam
menggunakan bahasa Indonesia kita harus tahu bagaimana berbahasa yang baik dan
benar agar tercermin bahwa kita ini adalah pelajar yang terpelajar. Untuk itu
dalam makalah ini akan membahas tentang:
a.
Jenis/Kelas Kata
b.
Ungkapan
c.
Antonim dan
Sinonim
d.
Pergeseran Makna
Kata
e.
Makna Denotasi
dan Konotasi
I.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas dapat dirumuskan rumusan masalah sbb:
I.2.1. Apa saja jenis/kelas kata dan
pengertiannya?
I.2.2. Apa pengertian ungkapan dan apa
saja contohnya?
I.2.3. Apa
pengertian antonim dan sinonim dan apa saja contohnya?
I.2.4.
Apa saja macam macam pergeseran makna kata dan pengertiannya?
I.2.5.
Apa pengertian makna denotasi dan konotasi dan apa saja contohnya?
I.3. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah sbb:
I.3.1.
Mengetahui jenis/kelas kata dan pengertiannya.
I.3.2. Mengetahui pengertian ungkapan
dan contohnya.
I.3.3. Mengetahui pengertian antonim
dan sinonim beserta contohnya.
I.3.4. Mengetahui macam macam
pergeseran makna kata dan pengertiannya.
I.3.5.
Mengetahui pengertian makna denotasi dan konotasi beserta contoh.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Kelas Kata
Chaer (2006:86) membagi kelas kata menjadi beberapa jenis, yaitu:
(1)
Kata Benda
Kata benda adalah semua kata yang dapat
diterangkan dengan menambahkan yang + kata sifat (Keraf, 1991:58). Misalnya
jalan yang bagus, dan pelayanan yang memuaskan. Selain itu, kata benda juga
dapat diawali dengan kata bukan tetapi tidak bisa diawali dengan kata tidak.
Kata benda dapat berupa kata benda dasar dan kata benda turunan.
Kata benda dasar merupakan kata benda yang berupa kata dasar atau kata benda
yang tidak berimbuhan, contohnya rumah dan murid. Sedangkan kata benda turunan
berupa (1) kata benda yang berimbuhan, contohnya penyiar dan bendungan; (2)
kata benda dengan bentuk reduplikasi, misalnya rumah-rumah, dan buku-buku;
serta (3) kata benda majemuk, contohnya sapu tangan dan minyak goreng.
(2)
Kata Ganti
Kata ganti adalah kata yang dipakai untuk
menggantikan kata benda yang menyatakan orang untuk menghindari pengulangan
yang tidak perlu. Misalnya murid dapat diganti dengan kata ganti dia, atau ia.
Keterangan lebih lanjut tentang kata ganti dapat dilihat pada di bawah ini.
|
Orang
|
Tunggal
|
Jamak
|
|
I
II
III
|
Aku, daku, ku-, -ku,
Engkau, kamu, kau-,
-mu, anda
Ia, dia, -nya, beliau
|
Kami (eksklusif), kita (inklusif)
Kamu sekalian, anda sekalian
Mereka
|
Berdasarkan bagan di atas, kami dan kita
sama-sama berfungsi sebagai kata ganti orang pertama jamak. Bedanya, kami
bersifat eksklusif, sedangkan kita bersifat inklusif. Kami bersifat ekslusif
artinya pronomina itu mencakup pembicara dan orang lain di pihaknya tetapi
tidak mencakup orang lain di pihak pendengar. Sebaliknya, kita bersifat
inklusif artinya pronomina itu tidak saja mencakup pembicara dan orang lain di
pihaknya tetapi juga orang lain di pihak pendengar (Alwi, 2003:252)
(3)
Kata Kerja
Kata kerja adalah kata-kata yang menyatakan
perbuatan atau tindakan. Semua kata yang mengandung imbuhan me-, ber-, di-,
kan-, dan -i atau penggabungannya termasuk dalam kata kerja. Tetapi ada juga
kata kerja yang tidak mengandung bentuk imbuhan di atas, karena merupakan
bentuk kata dasar, misalnya tidur, bangun, mandi, datang, pulang, dan
sebagainya.
Segala macam kata kerja mempunyai suatu kesamaan, baik yang
memiliki imbuhan ataupun tidak. Kesamaan tersebut merupakan ciri utama kata
kerja, yaitu dapat diperluas dengan “dengan + kata sifat”, misalnya belajar
dengan rajin.
(4)
Kata Sifat
Kata sifat merupakan kata yang menyatakan
sifat atau keadaan dari suatu nomina (kata benda) atau suatu pronominal (kata
ganti) (Keraf, 1991:88). Misalnya tinggi, mahal, baik, dan rajin. Semua kata
sifat dalam Bahasa Indonesia dapat mengambil bentuk se + reduplikasi kata dasar
+ nya, serta dapat diperluas dengan paling, lebih, dan sekali, misalnya paling
cepat, lebih cepat, dan cepat sekali.
(5)
Kata Sapaan
Kata sapaan adalah kata-kata yang digunakan
untuk menyapa, menegur, atau menyebut orang kedua, atau orang yang diajak
bicara (Chaer, 2006:107). Kata sapaan menggunakan kata-kata dari perbendaharaan
kata nama diri dan kata nama perkerabatan.
Kata sapaan dalam bentuk nama diri dapat
digunakan dalam bentuk utuh seperti Tina, Hasan, dan Asti, dapat pula digunakan
dalam bentuk singkatnya, seperti Tin, San, dan As. Begitu juga dengan nama
perkerabatan. Bentuk utuh dan bentuk singkat dari nama perkerabatan dapat
dipakai, misalnya Pak dari bentuk utuh Bapak, Dik dari bentuk utuh adik, dan Bu
dari bentuk utuh Ibu.
(6)
Kata Penunjuk
Kata penunjuk adalah kata yang digunakan untuk
menunjukkan suatu benda. Chaer (2006:110) membagi kata penunjuk memjadi dua
yaitu ini dan itu. Kata penunjuk ini digunakan untuk menunjuk suatu benda yang
letaknya relatif dekat dari pembicara, sedangkan kata penunjuk itu digunakan
untuk untuk menunjuk benda yang letaknya relatif jauh dari pembicara.
(7)
Kata Bilangan
Kata bilangan adalah kata yang menunjukkan
nomor, urutan atau himpunan. Menurut bentuk dan fungsinya, kata bilangan dibagi
menjadi kata bilangan utama dan kata bilangan tingkat (Chaer, 2006:113). Kata
bilangan utama seperti satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Sedangkan kata
bilangan tingkat seperti pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.
(8)
Kata Penyangkal
Kata penyangkal merupakan kata yang digunakan
untuk menyangkal atau mengingkari suatu hal atau suatu peristiwa. Chaer
(2006:119) menyatakan bahwa kata penyangkal yang ada dalam Bahasa Indonesia
yaitu kata tidak atau tak, tiada, bukan, dan tanpa.
(9)
Kata Depan
Kata depan adalah kata yang digunakan di depan
kata benda untuk merangkai kata benda tersebut dengan bagian kalimat lain. Chaer
(2006:122) membagi kata depat berdasarkan fungsinya, yaitu kata depan yang
menyatakan (1) tempat berada, yaitu di, pada, dalam, atas, dan antara; (2) arah
asal, yaitu dari; (3) arah tujuan, yaitu ke, kepada, akan, dan terhadap; (4)
pelaku, yaitu oleh; (5) alat, yaitu dengan, dan berkat; (6) perbandingan, yaitu
daripada; (7) hal atau masalah, yaitu tentang dan mengenai; (8) akibat, yaitu
hingga dan sampai; (9) tujuan, yaitu untuk, buat, guna, dan bagi.
(10) Kata
Penghubung
Kata penghubung merupakan kata yang berfungsi
untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan
kalimat. Berdasarkan fungsinya, kata penghubung dibedakan menjadi dua macam
yaitu (1) kata penghubung yang menghubungkan kata, klausa, atau kalimat yang
kedudukannya sederajat atau setara; dan (2) kata penghubung yang menghubungkan
klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat.
Kata penghubung yang menghubungkan kata,
klausa, atau kalimat yang kedudukannya sederajat atau setara dibedakan menjadi
kata penghubung yang (1) menggabungkan biasa, yaitu dan, dengan, serta; (2)
menggabungkan memilih, yaitu atau; (3) menggabungkan mempertentangkan, yaitu
tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya; (4) menggabungkan membetulkan, yaitu
kata penghubung melainkan dan hanya; (5) menggabungkan menegaskan, yaitu
bahkan, malah (malahan), lagipula, apalagi, dan jangankan; (6) menggabungkan
membatasi, yaitu kecuali, hanya; (7) menggabungkan mengurutkan, yaitu
lalu, kemudian, selanjutnya; (8) menggabungkan menyamakan, yaitu yakni, yaitu,
bahwa, adalah, ialah; dan (9) menggabungkan menyimpulkan, yaitu jadi, karena
itu, oleh sebab itu.
Kata penghubung yang menghubungkan
klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat dibagi menjadi kata
penghubung yang menggabungkan (1) menyatakan sebab, yaitu sebab, karena; (2)
menyatakan syarat, yaitu kalau, jikalau, jika, bila, apabila, asal; (3)
menyatakan tujuan, yaitu agar, supaya; (4) menyuatakan waktu, yaitu ketika,
sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala; (5) menyatakan akibat sampai, hingga, sehingga;
(6) menyatakan sasaran, yaitu untuk, guna; (7) menyatakan perbandingan, yaitu
seperti, sebagai, laksana; (8) menyatakan tempat, yaitu kata penghubung tempat.
(11) Kata
Keterangan
Kata keterangan merupakan kata yang memberi
penjelasan pada kalimat atau bagian kalimat lain. Kata keterangan dibagi
menjadi dua, yaitu kata keterangan yang menyatakan seluruh kalimat, dan kata
keterangan yang menyatakan unsur kalimat (Chaer, 2006:162-163).
Kata keterangan yang menerangkan keseluruhan
kalimat mempunyai empat fungsi. Fungsi-fungsi tersebut antara lain (1)
kepastian, yaitu memang, pasti, tentu; (2) keraguan atau kesangsian, yaitu
barangkali, mungkin, kiranya, rasanya, agaknya, rupanya; (3) harapan, yaitu
semoga, moga-moga, mudah-mudahan, hendaknya; dan (4) frekuensi, yaitu
seringkali, sesekali, sekali-kali, acapkali, jarang.
Kata keterangan yang menerangkan unsur kalimat
berfungsi untuk menyatakan (1) waktu, yaitu sudah, telah, sedang, lagi, tengah,
akan, belum, masih, baru, pernah, sempat; (2) sikap batin, yaitu ingin, mau,
hendak, suka, segan; (3) perkenan, yaitu boleh, wajib, mesti, harus, jangan,
dilarang; (4) frekuensi, yaitu jarang, sering, sekali, dua kali; (5) kualitas,
yaitu sangat, amat, sekali, lebih paling, kurang, cukup; (6) kuantitas dan
jumlah, yaitu banyak, sedikit, kurang, cukup, semua, beberapa, seluruh,
sejumlah, sebagian, separuh, kira-kira, sekitar, kurang lebih, para, kaum; (7)
penyangkalan, yaitu tidak, tak, tiada, bukan; dan (8) pembatasan, yaitu hanya,
cuma.
(12) Kata
Tanya
Kata tanya merupakan kata yang digunakan
sebagai pembantu dalam kalimat tanya, yang menanyakan tentang benda, orang,
atau keadaan. Keraf (1992:68) menyatakan bahwa kata tanya asli dalam Bahasa
Indonesia adalah (1) apa, untuk menanyakan benda; (2) siapa, untuk menyakan
orang, dan (3) mana untuk menanyakan pilihan. Ketiga kata tanya tersebut dapat
dgabungkan dengan bermacam-macam kata depan, seperti dengan apa, dengan siapa,
dari mana, untuk apa, untuk siapa, ke mana, buat apa, buat siapa, kepada siapa,
dari apa, dan dari siapa. Adapula kata tanya lain yang bukan menanyakan orang
atau benda, melainkan menanyakan keadaan atau perihal, seperti mengapa,
bilamana, berapa, kenapa, dan bagaimana.
(13) Kata
Seru
Kata seru merupakan kata yang digunakan untuk
mengungkapkan perasaan. Ada dua macam kata seru bila dilihat dari strukturnya
yaitu kata seru yang berupa kata-kata singkat dan kata seru yang berupa
kata-kata biasa (Chaer, 2006:193). Kata seru yang berupa kata-kata singkat
misalnya wah, cih, hai, o, oh, nah, ha, dan hah. Sedangkan kata seru yang
berupa kata-kata biasa seperti aduh, celaka, gila, kasihan, dan ya ampun, serta
kata serapan astaga, masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya.
II.2. Ungkapan
Ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk
arti baru di mana tidak berhubungan dengan kata pembentuk dasarnya. Nama lain
ungkapan adalah idiom. Berikut ini adalah beberapa contoh dari ungkapan dan
artinya:
|
No.
|
Ungkapan
|
Arti
|
|
1.
|
Abdi masyarakat
|
Pegawai pemerintah yang pada dasarnya mengabdi pada masyarakat
|
|
2.
|
Abdi negara
|
Pegawai pemerintah
|
|
3.
|
Acara niaga
|
Acara iklan
|
|
4.
|
Acara rapat
|
Hal yang akan dibicarakan dalam rapat
|
|
5.
|
Acara surat
|
Pokok isi surat
|
|
6.
|
Panjang tangan
|
Suka mencuri
|
|
7.
|
Ringan tangan
|
Suka membantu
|
|
8.
|
Ringan tangan
|
Suka memukul, kasar, suka main tangan
|
|
9.
|
Tangan besi
|
Memerintah dengan keras, diktator
|
|
10.
|
Bertangan dingin
|
Apa yang dikerjakannya selalu berhasil
|
|
11.
|
Tangan hampa
|
Tak mendapat hasil apa-apa
|
|
12.
|
Tangan kanan
|
Orang kepercayaan
|
|
13.
|
Tangan kosong
|
Tidak bersenjata
|
|
14.
|
Tangan terbuka
|
(diterima) dengan senang hati
|
|
15.
|
Anak air
|
Selokan
|
|
16.
|
Anak angkat
|
Anak orang lain yang dipelihara seperti anak sendiri
|
|
17.
|
Anak bawang
|
Tak masuk hitungan
|
|
18.
|
Anak dagang
|
Orang perantauan
|
|
19.
|
Anak hitam
|
Anak yang kedelapan
|
|
20.
|
Anak kapal
|
Awak kapal
|
|
21.
|
Anak kolong
|
Anak tentara
|
|
22.
|
Anak emas
|
Orang yang paling disayang oleh atasan
|
|
23.
|
Anak semang
|
Orang yang bekerja pada orang lain
|
|
24.
|
Kuda hitam
|
Peserta pertandingan yang tidak diperhitungkan akan menang
ternyata menang
|
|
25.
|
Naik kuda hijau
|
Mabuk
|
|
26.
|
Naik palak
|
Jadi marah
|
|
27.
|
Naik tangan
|
Beruntung
|
|
28.
|
Angkat bicara
|
Mulai berbicara
|
|
29.
|
Angkat kaki
|
Melarikan diri
|
|
30.
|
Angkat tangan
|
Menyerah, putus asa
|
|
31.
|
Angkat topi
|
Kagum
|
|
32.
|
Ibu kota
|
Kota pusat pemerintahan
|
|
33.
|
Ibu jari
|
Empu jari, jempol
|
|
34.
|
Ibu kaki
|
Empu kaki
|
|
35.
|
Ibu negara
|
Isri presiden
|
|
36.
|
Ibu pertiwi
|
Tanah air
|
|
37.
|
Kepala angin
|
Bodoh
|
|
|
Kepala batu
|
Keras kepala, tak mau mendengar nasihat orang lain
|
|
39.
|
Kepala dingin
|
Sabar, tenang
|
|
40.
|
Mulut berbisa
|
Suka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati
|
|
41.
|
Mulut manis
|
Menarik hati tutur katanya
|
|
42.
|
Hati putih
|
Mempunyai niat yang ikhlas
|
|
43.
|
Hati berlian
|
Sangat baik hati
|
|
44.
|
Hati tungau
|
Penakut
|
|
45.
|
Mata angin
|
Arah angin datang
|
|
46.
|
Mata batin
|
Perasaan dalam hati
|
|
47.
|
Mata betung
|
Buta huruf
|
|
48.
|
Mata dagangan
|
Barang dagangan
|
|
49.
|
Mata gelap
|
Mengamuk
|
|
50.
|
Mata uang
|
Satuan harga uang suatu negara
|
II.3. Sinonim dan
Antonim
(1) Sinonim
Sinonim adalah pertalian dua kata atau lebih yang memiliki makna
sama atau hampir sama. Suatu kata bersinonim dengan kata lainnya apabila dalam
kalimat yang sama, kata-kata tersebut dapat saling menggantikan.
Atau kata-kata yang memiliki kesamaan arti secara struktural atau leksikal
dalam berbagai urutan kata-kata sehingga memiliki daya tukar (substitusi)
Contoh:
- ciri = tanda
- benar = betul
- agar = supaya
- rajin = giat
- hemat = irit
Contoh dalam kalimat:
- Pak Iwan meninggal dunia pada hari Kamis.
Pak Iwan wafat pada hari Kamis.
- Baju yang dikenakan Aulia sangat cantik.
Baju yang dikenakan Aulia sangat indah.
Contoh:
- ciri = tanda
- benar = betul
- agar = supaya
- rajin = giat
- hemat = irit
Contoh dalam kalimat:
- Pak Iwan meninggal dunia pada hari Kamis.
Pak Iwan wafat pada hari Kamis.
- Baju yang dikenakan Aulia sangat cantik.
Baju yang dikenakan Aulia sangat indah.
1. Sinonim
mutlak
Kata-kata yang dapat bertukar tempat dalam konteks kebahasaan apa
pun tanpa mengubah makna struktural dan makna leksikal dalam rangkaian
kata/frasa/klausa/kalimat. Contoh:
kosmetik = alat kecantikan
laris = laku, larap
leksikografi = perkamusan
kosmetik = alat kecantikan
laris = laku, larap
leksikografi = perkamusan
kucing = meong
2. Sinonim
semirip
Kata-kata yang dapat bertukar tempat dalam konteks kebahasaan
tertentu tanpa mengubah makna struktural dan leksikal dalam rangkaian
kata/frasa/klausa/kalimat tersebut saja. Contoh:
melatis = menerobos
lahiriah = jasmaniah
melatis = menerobos
lahiriah = jasmaniah
3. Sinonim
selingkung
Kata-kata yang dapat saling mengganti dalam satu konteks
kebahasaan tertentu saja secara struktural dan leksikal.
Contoh: lemah = lemas
(2) Antonim
Antonim adalah kata-kata yang memiliki pertalian makna
bertentangan secara penuh atau secara sebagian dalam berbagai urutan kata. Antonim
disebut juga lawan kata, yaitu hubungan antara satu kata dengan kata yang lain
yang dianggap berlawanan.
Contoh:
- siang > < malam
- pulang > < pergi
- kaya ><miskin
- panjang> < pendek
- hidup > < mati
Contoh:
- siang > < malam
- pulang > < pergi
- kaya ><miskin
- panjang> < pendek
- hidup > < mati
Contoh dalam kalimat:
- Orang yang kaya itu membeli mobil.
Orang yang miskin itu tidak dapat membeli mobil.
- Rambutnya panjang sekali.
Rambutnya pendek sekali.
- Orang yang kaya itu membeli mobil.
Orang yang miskin itu tidak dapat membeli mobil.
- Rambutnya panjang sekali.
Rambutnya pendek sekali.
1.
Antonim berpasangan
Kata-kata yang secara makna jelas bertentangan karena didasarkan
pada makna pasangannya sehingga tidak bisa dipertentangkan tanpa kehadiran
makna pasangannya. Jika salah satu unsur dinegatifkan, tidak secara serta-merta
memunculkan pasangannya. Contoh:
(ber)-dosa >< suci (tidak (ber)-dosa ≠suci)
istri >< suami (bukan istri ≠ suami)
pembeli >< penjual (bukan pembeli ≠ penjual)
(ber)-dosa >< suci (tidak (ber)-dosa ≠suci)
istri >< suami (bukan istri ≠ suami)
pembeli >< penjual (bukan pembeli ≠ penjual)
2. Antonim
melengkapi
Kata-kata yang secara makna bertentangan, tetapi kehadiran makna
salah satu kata bersifat melengkapi kehadiran makna yang lain. Contoh:
pertanyaan >< jawaban
mencari >< menemukan
pertanyaan >< jawaban
mencari >< menemukan
3. Antonim
berjenjang
Kata-kata yang secara makna mengandung pertentangan, tetapi
pertentangan makna ini bersifat berjenjang/bertahap/bertingkat. Contoh:
dingin >< hangat >< panas
kaku >< lentur >< elastic
mahal >< wajar >< murah
II.4. Pergeseran
Makna Kata
1.
Generalisasi [Perluasan]
Generalisasi atau pergeseran makna meluas adalah pergeseran makna
sebuah kata dari makna yang khusus atau sempit ke makna yang lebih luas atau
lebih umum.
Contoh:
• Apakah Ibu seorang petani?
• Putri membantu nenek tua membawa ranting-ranting itu.
• Hanya senyum kecutlah yang diperlihatkan putri kepada orangtua nya.
• Apakah Ibu seorang petani?
• Putri membantu nenek tua membawa ranting-ranting itu.
• Hanya senyum kecutlah yang diperlihatkan putri kepada orangtua nya.
2.
Spesialisasi [Penyempitan]
Spesialisasi atau penyempitan makna adalah perubahan makna dari
yang lebih umum / luas ke makna yang lebih khusus / sempit .
Contoh:
• Sekarang kakak telah menjadi sarjana pertanian.
• Toni adalah mantan karyawan dari perusahaan PT. Sejahtera.
• Pendeta sedang berkotbah di Gereja Bala Keselamatan.
• Toni adalah mantan karyawan dari perusahaan PT. Sejahtera.
• Pendeta sedang berkotbah di Gereja Bala Keselamatan.
3.
Ameliorisasi [Peninggian Makna]
Ameliorisasi adalah perubahan makna yang mengakibatkan makna
yang baru dirasakan lebih tinggi/hormat/halus daripada makna lama.
Contoh
• Walikota Surakarta membagikan makanan bagi tunawisma.
• Ia adalah anak dari seorang tunanetra.
• Ani adalah pramusiswa yang bekerja di rumah mewah itu.
• Ia adalah anak dari seorang tunanetra.
• Ani adalah pramusiswa yang bekerja di rumah mewah itu.
4.
Peyorasi [Penurunan Makna]
Peyorasi adalah perubahan makna kata yang mengakibatkan
makna baru dirasa lebih rendah atau kurang baik nilainya daripada makna
sebelumnya.
Contoh:
• Perempuan yang berkerudung itu kakakku.
• Wanita itu adalah bini dari tetangga baruku.
• Pencuri itu mampus karena ketahuan oleh warga.
• Perempuan yang berkerudung itu kakakku.
• Wanita itu adalah bini dari tetangga baruku.
• Pencuri itu mampus karena ketahuan oleh warga.
5.
Asosiasi
Asosiasi adalah perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan
sifat antara dua benda atau dua hal.
Contoh:
• Beberapa anggota dewan lama memperebutkan jatah kursi di DPR.
• Petugas rutan itu pun menerima amplop dari terdakwa.
• Rina mendapat salam tempel dari Pak Lurah kemarin sore.
• Beberapa anggota dewan lama memperebutkan jatah kursi di DPR.
• Petugas rutan itu pun menerima amplop dari terdakwa.
• Rina mendapat salam tempel dari Pak Lurah kemarin sore.
6.
Sinestesia
Sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran
tanggapan antara dua indra. Misalnya, dari indra penglihatan ke indra
pendengar, dari indra perasa ke indra pendengar.
Contoh:
• Gadis itu sungguh sedap dipandang.
• Kata-katanya yang sangat kejam sungguh pedas di telinga.
• Suaranya yang merdu sangat lembut di telinga kami.
• Kata-katanya yang sangat kejam sungguh pedas di telinga.
• Suaranya yang merdu sangat lembut di telinga kami.
II.5. Makna
Konotasi dan Denotasi
1. Makna
Denotasi
Makna denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang
sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus. Makna denotasi lazim disebut 1)
makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan)
menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman yang
berhubungan dengan informasi (data) faktual dan objektif. 2) makna sebenarnya,
umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang berkaki empat (makna sebenarnya).
3) makna lugas yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya, bukan
makna kias.
Contoh :
1. Adik makan nasi. ( makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut )
2. Harga kambing hitam itu sangat mahal. ( kambing hitam bermakna kambingg yang memiliki warna hitam )
2. Makna konotasi
Makna konotasi merupakan makna kiasan atau makna yang timbul setelah disusun dalam kalimat.Contoh :
1. Dalam peristiwa itu, dia dijadikan kambing hitam. (kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan)
2. Anak itu berangkat besar ketika ayahnya pergi ke Jepang. ( berangkat bermakna beranjak atau mulai menjadi )
3. Bunga desa itu sudah menjadi karyawan bank.(Kata “bunga desa” bermakna sesuatu yang dianggap cantik)
Contoh :
1. Adik makan nasi. ( makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut )
2. Harga kambing hitam itu sangat mahal. ( kambing hitam bermakna kambingg yang memiliki warna hitam )
2. Makna konotasi
Makna konotasi merupakan makna kiasan atau makna yang timbul setelah disusun dalam kalimat.Contoh :
1. Dalam peristiwa itu, dia dijadikan kambing hitam. (kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan)
2. Anak itu berangkat besar ketika ayahnya pergi ke Jepang. ( berangkat bermakna beranjak atau mulai menjadi )
3. Bunga desa itu sudah menjadi karyawan bank.(Kata “bunga desa” bermakna sesuatu yang dianggap cantik)
Makna konotasi dibagi menjadi 2 yaitu :
A. Konotasi positif merupakan kata yang memiliki makna yang dirasakan baik dan lebih sopan.
Contoh :
1. Sebagai seorang istri harus pandai menyenangkan suami.
2. Biaya pemakaman para korban bencana alam ditanggung pemerintah setempat.
3. Para wanita tuna susila bekerja akibat tuntutan kebutuhan ekonomi.
4. Tiga pahlawan reformasi telah gugur lima tahun yang lalu. ( Kata “gugur” bermakna mati dalam pertempuran )
B. Konotasi negatif merupakan kata yang bermakna kasar atau tidak sopan.
Contoh :
1. Selama meringkuk di penjara, Roy berubah menjadi pendiam. ( Kata penjara bermakna tempat mengurung badan )
2. Masih ada segerombolan orang yang suka menebang demi keuntungan pribadi. (Kata “gerombolan” bermakna kawanan pengacau / perusuh.)
3. Banyak gelandangan tidur di bawah jembatan.
Berikut adalah contoh-contoh kata yang bermakna denotasi dan konotasi
1) meluap
denotasi : Banjir yang terjadi kemarin disebabkan oleh air sungai yang meluap tak mampu
dikendalikan oleh tanggul yang ada disekitanya.
Konotasi : Kemarahan Pak Budi makin hari tambah meluap karena masalah yang diperbantahkan itu
tidak pernah menemukan titik permasalahannya.
2) penuh
denotasi : Lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pusat hiburan itu telah terisi penuh oleh
pemukiman penduduk.
Konotasi : Pekerjaan itu dilakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab.
3) naik
denotasi : Pak Halim pergi ke Makassar dengan naik mobil pribadi.
Konotasi : Naik turunnya harga barang sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan konsumen.
4) tumbuh
denotasi : Pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah Pak Ilham memiliki buah yang besar- besar.
Konotasi : Kondisi perekonomian Indonesia mulai tumbuh sejak beralihnya sistem pemerintahan ke
era reformasi.
5) atas
denotasi : Di atas pohon yang rindang itu ada terdapat beberapa sarang burung hantu.
Konotasi : Irama yang muncul pada permukaan tembok itu ditimbulkan atas beberapa perpaduan
warna
6) kendali
denotasi : Nakhoda memberikan instruksi kepada para penumpang kapal agar waspada, sebab
kendali dalam kapal sedang mengalami gangguan.
Konotasi : Peristiwa itu terjadi saat dirinya telah kehilangan kendali.(kontrol)
7) panas
denotasi : Permukaan kulit pada anak itu lecet akibat tersiram air panas.
Konotasi : Suhu dalam ruangan itu semakin panas ketika peserta diskusi dalm ruangan itu saling
beradu argumen. (panas=ketegangan)
A. Konotasi positif merupakan kata yang memiliki makna yang dirasakan baik dan lebih sopan.
Contoh :
1. Sebagai seorang istri harus pandai menyenangkan suami.
2. Biaya pemakaman para korban bencana alam ditanggung pemerintah setempat.
3. Para wanita tuna susila bekerja akibat tuntutan kebutuhan ekonomi.
4. Tiga pahlawan reformasi telah gugur lima tahun yang lalu. ( Kata “gugur” bermakna mati dalam pertempuran )
B. Konotasi negatif merupakan kata yang bermakna kasar atau tidak sopan.
Contoh :
1. Selama meringkuk di penjara, Roy berubah menjadi pendiam. ( Kata penjara bermakna tempat mengurung badan )
2. Masih ada segerombolan orang yang suka menebang demi keuntungan pribadi. (Kata “gerombolan” bermakna kawanan pengacau / perusuh.)
3. Banyak gelandangan tidur di bawah jembatan.
Berikut adalah contoh-contoh kata yang bermakna denotasi dan konotasi
1) meluap
denotasi : Banjir yang terjadi kemarin disebabkan oleh air sungai yang meluap tak mampu
dikendalikan oleh tanggul yang ada disekitanya.
Konotasi : Kemarahan Pak Budi makin hari tambah meluap karena masalah yang diperbantahkan itu
tidak pernah menemukan titik permasalahannya.
2) penuh
denotasi : Lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pusat hiburan itu telah terisi penuh oleh
pemukiman penduduk.
Konotasi : Pekerjaan itu dilakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab.
3) naik
denotasi : Pak Halim pergi ke Makassar dengan naik mobil pribadi.
Konotasi : Naik turunnya harga barang sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan konsumen.
4) tumbuh
denotasi : Pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah Pak Ilham memiliki buah yang besar- besar.
Konotasi : Kondisi perekonomian Indonesia mulai tumbuh sejak beralihnya sistem pemerintahan ke
era reformasi.
5) atas
denotasi : Di atas pohon yang rindang itu ada terdapat beberapa sarang burung hantu.
Konotasi : Irama yang muncul pada permukaan tembok itu ditimbulkan atas beberapa perpaduan
warna
6) kendali
denotasi : Nakhoda memberikan instruksi kepada para penumpang kapal agar waspada, sebab
kendali dalam kapal sedang mengalami gangguan.
Konotasi : Peristiwa itu terjadi saat dirinya telah kehilangan kendali.(kontrol)
7) panas
denotasi : Permukaan kulit pada anak itu lecet akibat tersiram air panas.
Konotasi : Suhu dalam ruangan itu semakin panas ketika peserta diskusi dalm ruangan itu saling
beradu argumen. (panas=ketegangan)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik beberapa
kesimpulan berikut ini:
1.
Kelas kata dapat dibagi menjadi
beberapa jenis, yaitu :
·
Kata
Benda adalah semua kata yang dapat diterangkan
dengan menambahkan yang + kata sifat .
·
Kata Ganti adalah kata yang dipakai
untuk menggantikan kata benda yang menyatakan orang untuk menghindari
pengulangan yang tidak perlu.
·
Kata kerja adalah kata-kata yang
menyatakan perbuatan atau tindakan.
·
Kata sifat merupakan kata yang
menyatakan sifat atau keadaan dari suatu nomina (kata benda) atau suatu
pronominal (kata ganti).
·
Kata sapaan adalah kata-kata yang
digunakan untuk menyapa, menegur, atau menyebut orang kedua, atau orang yang
diajak bicara.
·
Kata penunjuk adalah kata yang digunakan
untuk menunjukkan suatu benda.
·
Kata bilangan adalah kata yang
menunjukkan nomor, urutan atau himpunan.
·
Kata penyangkal merupakan kata yang
digunakan untuk menyangkal atau mengingkari suatu hal atau suatu peristiwa.
·
Kata depan adalah kata yang digunakan di
depan kata benda untuk merangkai kata benda tersebut dengan bagian kalimat
lain.
·
Kata penghubung merupakan kata yang
berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau
kalimat dengan kalimat.
·
Kata keterangan merupakan kata yang
memberi penjelasan pada kalimat atau bagian kalimat lain.
·
Kata tanya merupakan kata yang digunakan
sebagai pembantu dalam kalimat tanya, yang menanyakan tentang benda, orang,
atau keadaan.
·
Kata seru merupakan kata yang digunakan
untuk mengungkapkan perasaan.
2.
Ungkapan adalah gabungan kata
yang membentuk arti baru di mana tidak berhubungan dengan kata pembentuk
dasarnya. Nama lain ungkapan adalah idiom. Berikut
ini adalah beberapa contoh dari ungkapan dan artinya:
|
No.
|
Ungkapan
|
Arti
|
|
1.
|
Abdi masyarakat
|
Pegawai pemerintah yang pada dasarnya mengabdi pada
masyarakat
|
|
2.
|
Abdi negara
|
Pegawai pemerintah
|
|
3.
|
Acara niaga
|
Acara iklan
|
|
4.
|
Acara rapat
|
Hal yang akan dibicarakan dalam rapat
|
|
5.
|
Acara surat
|
Pokok isi surat
|
|
6.
|
Panjang tangan
|
Suka mencuri
|
3.
Sinonim
adalah pertalian dua kata atau lebih yang memiliki makna sama atau hampir sama.
Suatu kata bersinonim dengan kata lainnya apabila dalam kalimat yang sama,
kata-kata tersebut dapat saling menggantikan. Contohnya:
-
ciri = tanda
- benar = betul
- agar = supaya
- rajin = giat
- hemat = irit
- benar = betul
- agar = supaya
- rajin = giat
- hemat = irit
Antonim adalah kata-kata yang memiliki pertalian makna bertentangan secara
penuh atau secara sebagian dalam berbagai urutan kata. Contohnya:
- (ber)-dosa ><
suci (tidak (ber)-dosa ≠suci)
- istri >< suami (bukan istri ≠ suami)
- pembeli >< penjual (bukan pembeli ≠ penjual)
- istri >< suami (bukan istri ≠ suami)
- pembeli >< penjual (bukan pembeli ≠ penjual)
4. Berikut ini adalah macam macam pergeseran makna kata:
·
Generalisasi atau pergeseran
makna meluas adalah pergeseran makna sebuah kata dari makna yang
khusus atau sempit ke makna yang lebih luas atau lebih umum.
Contoh: Hanya senyum kecutlah yang
diperlihatkan putri kepada orangtua nya.
·
Spesialisasi atau penyempitan
makna adalah perubahan makna dari yang lebih umum / luas ke makna yang lebih
khusus / sempit .
Contoh: Sekarang kakak telah
menjadi sarjana pertanian.
·
Ameliorisasi adalah perubahan
makna yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tinggi/hormat/halus
daripada makna lama.
Contoh: Walikota Surakarta membagikan
makanan bagi tunawisma.
·
Peyorasi adalah perubahan makna
kata yang mengakibatkan makna baru dirasa lebih rendah atau kurang baik
nilainya daripada makna sebelumnya.
Contoh: Perempuan yang berkerudung
itu kakakku.
·
Asosiasi adalah perubahan makna
kata yang terjadi karena persamaan sifat antara dua benda atau dua hal.
Contoh: Beberapa anggota dewan lama
memperebutkan jatah kursi di DPR.
·
Sinestesia adalah perubahan
makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra. Misalnya, dari indra
penglihatan ke indra pendengar, dari indra perasa ke indra pendengar.
Contoh: Gadis itu sungguh sedap dipandang.
5. Makna denotasi
merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang sebenarnya atau sesuai
dengan makna kamus. Contoh : Harga
kambing hitam itu sangat mahal. ( kambing hitam bermakna kambingg yang memiliki
warna hitam ).
Makna konotasi merupakan makna kiasan atau makna
yang timbul setelah disusun dalam kalimat.Contoh : Dalam peristiwa itu, dia
dijadikan kambing hitam. (kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan).
Latihan
Soal
1.
Pergeseran makna sebuah
kata dari makna yang khusus atau sempit ke makna yang lebih luas atau lebih
umum disebut…
a.
Generalisasi c.
Asosiasi
b.
Peyorasi d. Spesialisasi
2. Kalimat
di bawah ini yang mengandung makna konotasi adalah…
a.
Adik makan nasi.
b.
Harga kambing hitam itu sangat
mahal.
c.
Pak Halim pergi ke Makassar
dengan naik mobil pribadi.
d.
Dalam peristiwa itu, dia
dijadikan kambing hitam.
3. Kata-katanya
yang sangat kejam sungguh pedas di telinga. Kalimat
yang bergaris bawah mengandung pergeseran makni kata…
a.
Peyorasi c. Sinestesia
b.
Asosiasi d. Spesialisasi
4. Pertalian
dua kata atau lebih yang memiliki makna sama atau hampir sama disebut…
a.
Antonim c. Konotasi
b.
Sinonim d. Denotasi
5. Kata
tanya adalah…
a.
kata yang dipakai untuk
menggantikan kata benda yang menyatakan orang untuk menghindari pengulangan
yang tidak perlu.
b.
kata yang menunjukkan nomor,
urutan atau himpunan.
c.
kata yang digunakan di depan
kata benda untuk merangkai kata benda tersebut dengan bagian kalimat lain.
d.
kata yang digunakan sebagai
pembantu dalam kalimat tanya, yang menanyakan tentang benda, orang, atau
keadaan.
6. Gabungan kata yang membentuk arti baru di mana tidak berhubungan
dengan kata pembentuk dasarnya disebut…
a.
Ungkapan c. Denotasi
b.
Sinonim d. Konotasi
7. Makna
konotasi dibagi menjadi…
a.
2 c.
4
b.
3 d.
1
8. Di
bawah ini yang merupakan macam macam pergeseran makna kata adalah kecuali…
a.
Asosiasi c. Sinestesia
b.
Peyorasi d. Antonim
9. Anak
itu memang sangat ringan tangan. Kata yang bergaris bawah merupakan
contoh dari…
a.
Idiom c.
denotasi
b.
Ungkapan d.
a dan b benar
10. Pergeseran
makna kata dibagi menjadi… macam.
a.
4 c.
6
b.
5 d.
7
Pembahasan
Soal
1.
Jawaban: a.
Generalisasi
Generalisasi
atau pergeseran makna meluas adalah pergeseran makna sebuah kata
dari makna yang khusus atau sempit ke makna yang lebih luas atau lebih umum.
2. Jawaban: d. Dalam peristiwa
itu, dia dijadikan kambing hitam.
Dalam kalimat
tersebut kambing hitam mempunyai arti
orang yang dipersalahkan dalam sebuah peristiwa, jadi kambing hitam mengandung
makna konotasi.
3. Jawaban : c. Sinestesia
Sinestesia
adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra. Misalnya,
dari indra penglihatan ke indra pendengar, dari indra perasa ke indra
pendengar. Dalam kalimat tersebut, pedas yang seharusnya dirasakan oleh mulut
malah dirasakan oleh telinga. Maka dari itu kalimat tersebut mengandung
pergeseran makna sinestesia.
4. Jawaban: b.
Sinonim
Sinonim
adalah pertalian dua kata atau lebih yang memiliki makna sama atau hampir sama.
5.
Jawaban: d. kata yang digunakan
sebagai pembantu dalam kalimat tanya, yang menanyakan tentang benda, orang,
atau keadaan.
Kata tanya
merupakan kata yang digunakan sebagai pembantu dalam kalimat tanya, yang
menanyakan tentang benda, orang, atau keadaan.
6. Jawaban:
a. Ungkapan
Ungkapan adalah
gabungan kata yang membentuk arti baru di mana tidak berhubungan dengan kata
pembentuk dasarnya.
7. Jawaban:
a. 2
Makna
konotasi dapat dibagi 2, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif.
8. Jawaban: d. Antonim
Antonim adalah kata-kata
yang memiliki pertalian makna bertentangan secara penuh atau secara sebagian
dalam berbagai urutan kata. Jadi antonim bukan merupakan macam macam pergeseran
makna kata.
9. Jawaban:
d. a dan b benar
Ringan tangan merupaka contoh dari ungkapan,
ungkapan sama artinya dengan idiom.
10. Jawaban: c.
6
Pergeseran
makna kata ada 6 macam, yaitu generalisasi, spesialisasi, ameliorisasi, peyorasi,
asosiasi dan sinestesia.
Semua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!
BalasHapus