Kamis, 30 Januari 2014

materi senam



SENAM
1.    Sejarah Senam
Pertama kali diperkenalkan pada zaman Yunani kuno. Senam berasal dari kata Gymnastics, Gymnas berarti telanjang, sebab pada waktu itu orang-orang berlatih tanpa memakai pakaian. Sedangkan Gymnasium adalah suatu tempat yang dipergunakan untuk mengadakan latihan senam. Pada zaman itu Gymnastik dilakukan dalam rangka upacara-upacara kepercayaan yaitu guna menyembah dewa Zeus.
Pada awal permulaaan abad ke-20, senam telah menjadi rencana pendidikan di sekolah-sekolah Amerika. Hal ini berkat usaha dari Dr.J.F.Williams, Dr.Dubly sorgen dan Thomas D.Wood.
Frederik Jahn adalah bapak Gymnastik, dia memkombinasikan latihan-latihan gimnastik dengan pertunjukan-pertunjukan patriotik. Dia juga menemukan beberapa perelatan senam, diantaranya adalah palang horizontal, palang sejajar, kuda-kuda melintang, dan bak lompat.
Senam di Negara Indonesia sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Pada waktu itu namanya “Gymnastiek”, zaman jepang dinamakan “Taiso”. Pemakaian istilah “senam” sendiri kemungkinkan bersamaan dengan pemakaian kata olahraga sebagai pengganti kata sport.

2.    Pengertian Senam
Senam adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang olahraga tersendiri maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga lainnya. Berlainan dengan cabang olahraga lain umumnya yang mengukur hasil aktivitasnya pada obyek tertentu, senam mengacu pada bentuk gerak yang dikerjakan dengan kombinasi terpadu dan menjelma dari setiap bagian anggota tubuh dari komponen-komponen kemampuan motorik seperti : kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelentukan, agilitas dan ketepatan. Dengan koordinasi yang sesuai dan tata urutan gerak yang selaras akan terbentuk rangkaian gerak artistik yang menarik.
Untuk mengetahui pengertian senam, kita harus mengetahui cirri-ciri senam antara lain:
1.Gerakan-gerakannya selalu dibuat atau diciptakan dengan sengaja
2.Gerakan-gerakannya harus selalu berguna untuk mencapai tujuan tertentu (meningkatkan kelentukan, memperbaiki sikap dan gerak atau keindahan tubuh, menambah ketrampilan, meningkatkan keindahan gerak, meningkatkan kesehatan tubuh)
3.Gerakannya harus selalu tesusun dan sistematis
Berdasarkan cirri-ciri diatas, batasan senam adalah latihan tubuh yang dipilih dan diciptakan dengan berencana, disusun secara sistematis dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis.
Pada tingkat sekolah atau yunior pertandingan dapat dibatasi pada nomor-nomor tertentu, biasanya senam lantai dan kuda-kuda lompat. Pertandingan tingkat Nasional dan Internasional bagi pria terdiri dari 6 (enam) nomor yakni : senam lantai, kuda-kuda lompat, kuda-kuda pelana, palang sejajar, palang tunggal, dan gelang-gelang. Sedang bagi wanita ada 4 (empat) nomor : senam lantai, kuda-kuda lompat, balok keseimbangan, dan palang bertingkat.
Penilaian diberikan oleh 4 (empat) orang wasit yang dipimpin oelh seorang wasit kepala. Setiap peserta pertandingan harus melakukan 2 (dua) macam rangkaian pada setiap nomor atau alat, satu rangkaian wajib (yang telah ditentukan terlebih dahulu) dan satu rangkaian pilihan atau bebas masing-masing. Nilai seseorang adalah rata-rata dari dua nilai tengah dengan membuang nilai tertinggi dan nilai terendah dari 4 (empat) orang wasit. Pesenam dengan nilai akumulasi tertinggi menjadi juara ke I dalam kategori serba bisa, tertinggi kedua menjadi juara ke II dan seterusnya.
Juara regu ditentukan dengan penjumlahan 5 (lima) nilai terbaik dari 6 (enam) anggota regu dan setiap alat. 6 (enam) peserta terbaik dari semua atlet turut dalam pertandingan final pada tiap-tiap atlet dan nilai akhir yaitu rata-rata dari rangkaian bebas/pilihan dan wajib terdahulu disatukan dengan nilai rangkaian bebas/pilihan dalam final. Nilai ini menentukan urutan pemenang tiap alat.
Para wasit memberikan nilai pada waktu bersamaan. Nilai maksimum adalah : 10,000. Hukuman-hukuman diberikan dengan pengurangan nilai pada pelaksanaan yang salah, penguasaan yang kurang baik, dibantu orang lain, jatuh dari alat atau melampaui batas waktu. Selain itu dinilai pula faktor kesulitan gerak dan penampilan estetikanya. Besar pengurangan nilai adalah persepuluhan. Peraturan penilaian direvisi setiap 2 (dua) tahun. Semua gerakan mempunyai faktor kesulitan yaitu : A, B dan yang tersukar adalah C. Rangkaian latihan biasaya terdiri atas sikap-sikap statis yang memerlukan tenaga yang besar disambung dengan gerakan-gerakan berirama y agn sesuai. Sementara sejumlah berntuk gerak memerlukan kekuatan yang lain memerlukan mobilitas atau keterampilan.

3.      Macam-macam Senam
3.1.Senam Lantai
a.      Pengertian senam lantai
Senam lantai pada umumnya disebut floor exercise, tetapi ada juga yang menamakan tumbling. Senam lantai adalah latihan senam yang dilakukan pada matras, unsur-unsur gerakannya terdiri dari mengguling, melompat, meloncat, berputar di udara, menumpu dengan tangan, atau kaki untuk mempertahankan sikap seimbang atau pada saat meloncat ke depan atau belakang.
Jenis senam ini juga disebut latihan bebas karena pada waktu melakukan gerakan pesenam tidak mempergunakan suatu peralatan khusus. Bila pesenam membawa alat berupa bola, pita, atau alat lain, itu hanyalah alat untuk meningkatkan fungsi gerakan kelentukan, pelemasan, kekuatan, ketrampilan, dan keseimbangan.Senam lantai dilakukan di atas area seluas 12×12 m dan dikelilingi matras selebar 1 m untuk keamanan pesenam.

Rangkaian gerakan senam harus dimulai dari komposisi gerakan ringan, sedang, berat, dan akrobatik, serta mengandung gerakan ketangkasan, keseimbangan, keluwesan, dll. Pesenam pria tanpil dalam waktu 70 detik dan wanita tampil diiringi music dalam waktu 90 detik. Gerkan-gerakan yang menekankan tenaga harus dilakukan secara lambat dan sikap statis sekurang-kurangnya 2 detik. Gerakan-gerakan salto harus dikerjakan setinggi bahu.Pesenam tidak boleh menggunakan alat atau suatu benda.Senam lantai menggunakan area yang berukuran 12 x 12 meter, dan area 1 meter untuk menjaga keamanan.

b.      Macam-Macam Bentuk Gerakan Senam Lantai
1.    Guling ke depan (Forward Roll)
Guling depan adalah guling yang dilakukan ke depan. Adapun langkah-langkah untuk melakukan guling ke depan :
a.    Berdiri tegak, kedua tangan lurus di samping badan.
b.    Angkat kedua tangan ke depan, bungkukkan badan, letakkan kedua telapak tangan di atas  matras.
c.    Siku ke samping, masukkan kepala di antara dua tangan.
d.    Sentuhkan bahu ke matras.
e.    Bergulinglah ke depan.
f.    Lipat kedua lutut, tarik dagu dan lutut ke dada dengan posisi tangan merangkul lutut.
g.    Sikap akhir guling depan adalah jongkok kemudian berdiri tegak.


2.    Guling ke belakang (Backward Roll)
Posisi awal guling ke belakang :
a.    Posisi jongkok, kedua kaki rapat, dan tumit diangkat.
b.    Kepala menunduk dan dagu rapat ke dada.
c.    Kedua tangan berada disamping telinga dan telapak tangan menghadap ke atas.
d.    Jatuhkan pantat ke belakang, badan tetap bulat.
e.    Pada saat punggung menyentuh matras, kedua lutut cepat ditarik ke belakang kepala.
f.    Pada saat kedua ujung kaki menyentuh matras di belakang kepala, kedua telapak tangan menekan matras hingga tangan lurus dan kepala terangkat.
g.    Ambil sikap jongkok, dengan lurus ke depan sejajar bahu, lalu berdiri.

Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat guling kebelakang :
a.    Penempatan tangan terlalu jauh kebelakang, tidak bisa menolak
b.    Keseimbangan tubuh kurang baik saat mengguling kebelakang, hal ini disebabkan karena sikap tubuh kurang bulat
c.    Salah satu tangan yang menumpu kurang bulat, atau bukan telapak tangan yang digunakan untuk menumpu diatas matras.
d.    Posisi mengguling kurang sempurna. Hal ini disebabkan karena kepala menoleh ke samping.
e.    Keseimbangan tidak terjaga karena mendarat dengan lutut (seharusnya telapak kaki)

Cara memberi bantuan guling kebelakang :
a.    Menopang dan mendorong pinggang pelaku kearah guling kebelakang dan membawanya ke arah guling
b.    Membantu mengangkat panggul dan membawa kearah guling



3.      Lompat Harimau
Secara prinsip teknik gerakan loncat harimau tidak jauh berbeda dengan teknik gerakan roll ke depan.Loncat harimau adalah sikap loncatan membusur dengan kedua tangan lurus ke depan pada saat melayang dan diteruskan dengan gerakan mengguling ke depan dan sikap akhir jongkok.

Cara melakukannya sebagai berikut:
a.    Berdiri tegak, kedua lengan lurus di samping, pandangan lurus ke depan.
b.    Kedua kaki menolak pada papan tolak disertai ayunan lengan keatas, badan melayang, tangan menumpu pada pangkat kuda-kuda, dan pandangan dipusatkan di depan dekat tangan.
c.    Kedua tangan menolak dengan sekuat tenaga dan lutut di lipat ke dada. Luruskan tungkai saat berada diatas ujung kuda-kuda.
d.     Sikap akhir jongkok terus berdiri.   

4.      Hands Stand
a.    Sikap permulaan berdiri tegak, salah satu kaki sedikit ke depan.
b.     Bungkukkan badan, tangan menumpu pada matras selebar bahu lengan keras, pandangan sedikit ke depan, pantat didorong setinggi-tingginya, tungkai depan bengkok sedang tungkai belakang lurus.
c.     Ayunkan tungkai belakang ke atas, kencangkan otot perut.
d.     Kedua tungkai rapat dan lurus merupakan satu garis dengan badan dan lengan, pandangan diantara tumpuan tangan, badan dijulurkan ke atas.
e.    keseimbangan.




5.      Meroda
Gerak memutar tubuh dari sikap menyamping dengan tumpuan gerakan pada kedua kaki dan tangan.Latihan meroda dapat dilakukan secara bertahap yaitu dari melakukan satu kali gerakan meroda,apabila sudah merasakan baik dapat di tingkatkan menjadi beberapa kali gerakan :
a.    Mula-mula berdiri tegak menyamping, kedua kaki dibuka sedikit lebar, kedua tangan lurus ke atas serong ke samping (menyerupai huruf V) dan pandangan ke depan
b.    Kemudian jatuhkan badan ke samping kiri, letakkan telapak tangan ke samping kiri, kemudian kaki kanan terangkat lurus ke atas. Disusul dengan meletakkan telapak tangan di samping tangan kiri.
c.    Saat kaki kanan diayunkan, maka kaki kiri ditolak pada lantai, sehingga kedua kaki terbuka dan serong ke samping.
d.    Kemuidan letakkan kaki kanan ke samping tangan kanan, tangan kiri terangkat disusul dengan meletakkan kaki kiri di samping kaki kanan.
e.    Badan terangkat, kedua lengan lurus ke atas ke posisi semula.

Cara memberikan bantuan merodadalah sebagai berikut :
a.    Pembantu memberikan bantuan dengan cara berdiri di belakang orang yang melakukan gerakan meroda .
b.    pada saat badan dan kedua kaki yang melakukan meroda terangkat ke atas, pembantu segera memegang kedua sisi pinggulnya .
c.     Pada waktu gerakan meroda ke samping, pembantu tetap memegang kedua sisi pinggulnya sampai kedua kaki menumpu di lantai .

6.      Lompat Jongkok
Cara melakukan lompat jongkok :
a.    Awalan lari cepat badan condong kedepan
b.    Kedua kaki menolak pada papan sekuat-kuatnya disertai ayunan lengan dari belakang bawah kedepan, badan lurus, dan tungkai di pisahkan.
c.     Saat tangan menyentuh pada bagian pangkal kuda-kuda segera menolak sekuat-kuatnya.badan melasyang diatas kuda-kuda dalam sikap lurus, lengan direntangkan, tungkai lurus dipisahkan, dan pandangan kedepan.
d.    Mendarat dengan ujung kaki mengeper dan lengan di rentangkan keatas.

7.      Round Off
Round off adalah : Suatu satuan gerakan yang terdiri dari :
a.    Melakukan hand stand dengan berputar pada sumbu tegak.
b.     Menolak dengan ke 2 tangan tumpuan pada saat ke 2 kaki akan mendarat di lantai.

Cara melakukan :   
a.    Melakukan hand stand (bagi anak yang belum bisa melakukan hand stand dilakukan dengan bantuan). Mengangkat 1 tangan dari lantai, tangan kanan dan kiri bergantian.
b.     Sama dengan atas, tetapi tangan yang diangkat ditempatkan di depan, kemudian memindahkan tangan yang lain disisi tangan yang pertama tadi, badan berputar pada sumbu tegak. Pada latihan 1 dan 2 saat kembali berdiri dengan cara bebas.
c.     Melakukan hand stand dengan meletakkan ke 2 tangan menghadap arah datang, jadi pada saat ke 2 tangan mendekat ke lantai, ke 2 tangan diputar sedemikian hingga ujung jari menghadap arah datang. Pada latihan ini tetap dibantu hingga sikap hand
d.    Melakukan latihan 3. Pada saat ke 2 kaki rapat akan turun dengan tolakan ke 2 tangan meninggalkan lantai.

e.     Melakukan latihan 3 dan 4 dengan irama yang cepat. Bila perlu tetap dibantu, terutama sikap hand stand yang berlangsung sangat singkat.Agar bisa melatih kekuatan tangannya dengan baik.
f.     Melakukan latihan 5, yang dilakukan cepat dengan awalan 2/3 langkah. Dengan tangan langsung menyentuh matras dan kemudian kaki langsung lurus ke atas.

8.       Lompat Kangkang
Lompatan dengan panggul ditekuk atau menyudut yaitu lompatan dengan membuat  sikap kangkang tanpa meluruskan badan terlebih dahulu.
Teknik pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
a.    Setelah awalan dan take off. angkat panggul tinggi-tinggi
b.    Pada saat tangan menyentuh peti atau kuda lompat, panggul ditekuk, tangan dibuka (gerakan ke samping).
c.     Tolakan tangan kuat dengan mengangkat dada dan kepala ke arah atas.
d.     Setelah kaki melewati peti lompat, luruskan badan dan rapatkan tungkai sebelum mendarat.
e.     Mendaratkan kedua kaki dengan rapat, lutut agak ditekuk.

9.      Head Stand
a.    Berdiri dengan kepala adalah sikap tegak dengan bertumpu pada kepala dan ditopang oleh kedua tangan.
b.    Sikap permulaan membungkuk bertumpu pada dahi dan tangan. Dahi dan tangan membentuk segitiga sama sisi.
c.    Angkat tungkai ke atas satu per satu bersamaan. Untuk menjaga agar badan tidak mengguling ke depan, panggul ke depan, dan punggung membusur.
d.    Berakhir pada sikap badan tegak, dan tungkai rapat lurus ke atas.

Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat melakukan head stand yaitu:

a.    Penempatan kedua tangan dan kepala tidak membentuk titik-titik segitiga sama sisi.
b.    Kekakuan pada leher, sendi bahu, perut, pinggang, dan paha.
c.    Otot-otot leher, sendi bahu, perut, pinggang, dan paha kurang kuat.
d.   Akibat dari poin b dan c diatas menyebabkan kurangnya koordinasi dan keseimbangan.
e.    Alas dasar/lantai tempat kepala bertumpu terlalu keras sehingga menimbulkan rasa   sakit.
f.     Terlalu cepat/kuat pada saat menolak.
g.    Sikap tangan yang salah, yaitu jari tangan tidak menghadap kedepan.


10.  Kayang
Kayang adalah posisi kaki bertumpu dengan empat titik dalam keadaan terbalik dengan meregang dan mengangkat perut dan panggul. Nilai dari pada gerakan kayang yaitu dengan menempatkan kaki lebih tinggi memberikan tekanan pada bahu dan sedikit pada pinggang.Manfaat dari gerakan kayang adalah untuk meningkatkan kelentukan bahu, bukan kelentukan pinggang.

Cara melakukan gerakan kayang sebagai berikut :
a.    Sikap permulaan berdiri, keduan tangan menumpu pada pinggul.
b.    Kedua kaki ditekuk, siku tangan ditekuk, kepala di lipat ke belakang.
c.    Kedua tangan diputar ke belakang sampai menyentuh matras sebagai tumpuan.
d.    Posisi badan melengkung bagai busur.


11.  Sikap lilin
Sikap lilin merupakan sikap tidur terlentang kemudian kedua kaki diangkat keras di atas (rapat) bersama-sama, pinggang ditopang kedua tangan dan pundak tetap menempel pada lantai. Dalam melakukan sikap lilin, kekuatan otot perut berfungsi untuk kedua tangan menopang pinggang.

Cara melakukan gerakan sikap lilin sebagai berikut :
a.    Tidur terlentang, kedua tangan di samping badan, pandangan ke atas.
b.     Angkat kedua kaki lurus ke atas dan rapat.
c.     Yang menjadi landasan adalah seluruh pundak dibantu kedua tangan menopang pada pinggang.
d.     Pertahankan sikap ini beberapa saat.


12.  Salto

Gerakan jungkir balik di udara tanpa menyentuh tanah: pesenam itu dengan gesitnya  melakukan beberapa kali.


13.  Guling Lenting
 Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan lenting tengkuk :
a.    Sikap Awal
Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat dan kedua lengan diangkat lurus ke atas. Sambil membungkukkan badan, tetakkan kediua tangan di matras kira-kira satu langkah dari kaki. Setelah itu letakkan tengkuk di antara kedua tangan sambil mengambil sikap guling depan. Kedua kaki dijaga agar tetap lurus.
b.    Pelaksanaan   
Ketika posisi untuk guling depan tercapai, segeralah mengguling ke depan. Saat tubuh sudah berada di atas kepala, kedua kaki segera dilecutkan lurus ke depan sambil dibantu oleh kedua tangan yang mendorong badan dengan menekan matras. Lecutan ini menyebabkan badan melenting ke depan.
c.    Sikap Akhir
Ketika layangan selesai, kedua kaki segera mendatar. Badan tetap melenting dan kedua lengan tetap terangkat lurus. Akhirnya , berdiri tegak.

3.2.     Senam Artistik
a.      Sejarah senam artistik
Lahirnya senam artistik di Indonesia yaitu pada saat menjelang pesta olahraga Ganefo I di Jakarta pada tahun 1963, yang mana setiap artistik merupakan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan, untuk ini perlu dibentuk suatu organisasi yang berfungsi menyiapkan para pesenamnya. Organisasi ini dibentuk pada tanggal 14 Juli 1963 dengan nama PERSANI (Persatuan Senam Indonesia), atas prakarsa dari tokoh-tokoh olahraga se-Indonesia yang menangani dan mempunyai keahlian pada cabang olahraga senam. Promotornya dapat diketengahkan tokoh-tokoh dari daerah seperti : Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara. Wadah inilah kemudian telah membina dan menghasilkan atlet-atlet senam yang dapat ditampilkan dalam Ganefo I dan untuk pertama kalinya pula pesenam-pesenam Indonesia menghadapi pertandingan Internasional. Kegiatan selanjutnya adalah mengikut sertakan tim senam dalam rangka Konferensi Asia Afrika I dan dalam Ganefo Asia, dimana untuk mempersiapkan atlet-atlet Indonesia ini dipanggil pelatih-pelatih senam dari RRC, maka dengan demikian Indonesia mengalami kemajuan dalam prestasi olahraga senam. Tetapi sangat disayangkan bahwa harapan yang mulai tumbuh harus berhenti sementara oleh karena suasana politik yaitu saat meletusnya G 30 S/PKI, sehingga pelatih-pelatih dari RRC harus dikembalikan ke negaranya.
Usaha untuk mengejar ketinggalan ini maka pada tahun 1967 dikirim seorang pelatih Indonesia yaitu : Sdr. T. J. Purba ke Jerman Timur untuk sekolah khusus pelatih senam artistik selama 26 bulan. Kemudian sebagai titik tolak yang kedua adalah dimasukkannya cabang olahraga senam artistik yang pertama kalinya dalam Pekan Olahraga Nasional (PON VII/1969) di Surabaya, dan kemudian untuk seterusnya dimasukkan dalam setiap penyelenggaraan PON.

b.      Peralatan Senam Artistik
Ukuran alat
1.      Untuk putra ada 6 alat
- floor exercise (lantai) : ukuran 12×12 m
- pommel horse (kuda-kuda pelana) ; panjang 1.60 m dan tinggi 1.10 m
- parallelbar (palang sejajar) : panjang 3.50 m, jarak 0.48 s/d 0.52 m, tinggi 1.75 m
- rings (gelang-gelang) : tinggi 2.55 m dan jarak 0.50 m
- horse vault (kuda-kuda lompat) ; panjang 1.60 m dan tinggi 1.35 m
- horizontal bar (palang tunggal) : panjang 2.40 m dan tinggi 2.55 m
2.        Untuk putrid ada 4 alat
- horse vault (kuda-kuda lompat) : panjang 1.60 dan tinggi 1.20 m
- univen bars (palang bertingkat) : panjang 2.40 m, tinggi palang bawah 1.50 m, tinggi palang atas 2.30 m
- balance beam (balok keseimbangan) : panjang 5.00 m dan tinggi 1.20 m
- floor exercise (lantai) : ukuran 12×12 m
3.      Peraturan Umum Senam Artistik
a. Kejuaraan Beregu (kompetisi I)
1.Setiap regu terdiri dari 6 pesenam putra/putri
2.Terdiri dari rangkaian wajib dan rangkaian pilihan, pada putra 6 alat, putrid 4 alat
3.Juara beregu (kompetisi I) adalah regu dengan jumlah nilai terbanyak dari jumlah 5 pesenam terbaik pada masing-masing alat untuk rangkaian wajib dan rangkaian pilihan.
Nilai maksimum untuk putra adalah: 12 nomor pertandingan x 50 = 600 (wajib dan pilihan), 60 nomor pertandingan x 50 = 300 (pilihan)
Nilai maksimum untuk putri adalah: 8 nomor pertandingan x 50 = 400 (wajib dan pilihan), 4 nomor pertandingan x 50 = 200 (pilihan)

b. Kejuaraan perorangan serba bias (kompetisi II)
1.Peserta finalis diambil dari 36 pesenam terbaik dari hasil kompetisi I, atau 1/3 dari jumlah peserta
2.Dibatasi 3 pesenam dari tiap Negara/daerah
3.Hanya melakukan rangkaian pilihan untuk putra 6 alat dan putrid 4 alat
4.Juara perorangan serba bisa (kompetisi II) adalah pesenam dengan jumlah nilai terbanyak dari nilai rata-rata pada kompetisi I (wajib dan pilihan), ditambah dengan nilai kompetisi II pada seluruh alat
Nilai maksimum untuk putra = 120
Nilai maksimum untuk putri = 80




c. Kejuaraan perorangan per alat (kompetisi III)
1.Peserta finalis diambil dari 8 pesenam terbaik dari hasil kompetisi I pada alat tersebut
2.Dibatasi 2 pesenam dari tiap Negara/daerah dan hanya 3 alat yang boleh diikuti oleh seorang pesenam
3.Hanya melakukan rangkaian pilihan untuk putra 6 alat dan putrid 4 alat
4.Juara perorangan per alat (kompetisi III) adalah pesenam dengan jumlah nilai terbanyak dari nilai rata-rata pada kompetisi I (wajib dan pilihan) ditambah dengan nilai kompetisi III pada masing-masing alat. Nilai maksimum putri =20


3.3.Senam Aerobik
Aerobik adalah suatu cara latihan untuk memperoleh oksigen sebanyak-banyaknya. Senam Aerobik adalah olahraga untuk peningkatan kesegaran jasmani bukan olahraga prestasi, akan tetapi olahraga preventif yang dapat dilakukan secara masal.
Pembagian senam Aerobik menurut cara melakukan dan musik pengiring, yaitu:
1. High impact aerobics (senam aerobik aliran gerakan keras)
2.Low impact aerobics (senam aerobik aliran gerakan ringan)
3.Discorobic (kombinasi antara gerakan-gerakan aerobik aliran keras dan ringan disko)
4.Rockrobic (kombinasi gerakan-gerakan aerobik dan ringan serta gerakan-gerakan rock n’roll)
5.Aerobic sport (kombinasi gerakan-gerakan keras dan ringan serta gerakan-gerakan kalestetik/kelentukan)

Tahap-tahap melakukan senam aerobik adalah sebagai berikut:
1. Pemanasan selama 10 menit
2.Latihan inti selama 15 – 20 menit
3.Pendinginan/pelemasan selama 5 menit

Selasa, 28 Januari 2014

yadnya, etika, susila dan weda



1.   Yadnya
a.      Pengertian Yadnya
Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Weda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:
  1. Rasa tulus ikhlas dan kesucian.
  2. Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara, Leluhur, Negara dan Bangsa, dan kemanusiaan.
  3. Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing- masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).
  4. Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran yang abadi.
b.      Panca Yadnya
Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari:
  1. Dewa Yadnya.
    Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan
    Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.
  2. Pitra Yadnya.
    lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.
    Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:
    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  3. Manusa Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
    Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:
    1. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
    2. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
    3. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton/ 210 hari).
    4. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.
Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.
  1. Resi Yadnya.
    Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:
    1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
    2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
    3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
    4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
    5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
  2. Bhuta Yadnya.
    Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau
    Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur- unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang diutamakan.








2.   Etika

A.    Makna Etika
Membicarakan tentang etika, kita akan menemukan banyak makna yang terkandung dalam kata tersebut. Hal ini karena pada dasarnya setiap tingkah laku manusia merupakan cerminan kepribadian seseorang itu. Baik buruknya tingkah laku merupakan manifesto dirinya sendiri. Sehingga sangat sulit untuk mendeskripsikan tingkah laku seseorang atau masyarakat. Terlepas dari itu semua, dalam hal ini kita akan membahas mengenai makna etika yang berkaitan dengan tingkah laku manusia dalam berbagai versi secara umum.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika mempunyai tiga arti, antara lain:
  1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta hak dan kewajiban moral (akhlak).
  2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
  3. Nilai yang membahas mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan masyarakat.
Untuk lebih mudah memahami tentang etika, maka makna etika dapat dibedakan menjadi tiga makna (urutan yang dibalik), yaitu:[1][1]
  1. Nilai-nilai serta norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok masyarakat dalam mengatur tingkah lakunya. Dalam hal ini etika dirumuskan sebagai sistem nilai yang bisa berfungsi baik dalam kehidupan manusia perseorangan maupun pada tarap sosial.
  2. Etika merupakan kumpulan asas atau nilai moral, dalam hal ini disebut sebagai kode etik.
  3. Norma diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang baik atau buruknya tingkah laku seseorang. Disini diartikan sebagai filsafat moral.
Disamping pengertian diatas, makna lain mengenai etika dapat dijelaskan sebagai berikut.[2][2]
  1. Etika mempunyai makna sama dengan moral yaitu suatu adat kebiasaan. Moral mengandung makna yang berkenaan dengan perbuatan yang baik dan buruk. Disamping itu dikenal juga konsep moralitas, yaitu sistem nilai yang terkandung dalam petuah, nasihat, perintah atau aturan yang diwariskan secara turun temurun melalui agama atau kebudayaan dan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup agar menjadi lebih baik. Moralitas memberikan manusia petunjuk dan aturan tentang bagaimana harus hidup, bertindak yang baik dan menghindari perilaku yang tidak baik. Moralitas juga dapat diartikan sebagai kualitas perbuatan manusia, sehingga perbuatan manusia dapat dikatakan baik atau buruk, salah atau benar. Dalam hal ini moralitas itu bersumber dari hati nurani. Hati nurani itulah yang memerintahkan atau melarang seseorang untuk melakukan sesuatu. Perbedaan moral dan etika ialah: jika moral bersumber dari diri seseorang yaitu hati nuraninya, sedangkan etika berdasarkan kepada hal-hal diluar dirinya seperti kebiasaan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
  2. Etika disebut sebagai adat kebiasaan yaitu norma-norma yang dianut oleh kelompok, golongan atau masyarakat tertentu, baik mengenai perbuatan yang baik maupun perbuatan yang bruruk.
  3. Etika dikenal juga sebagai studi tentang prinsip-prinsip perilaku yang baik dan yang buruk. Dalam hal ini etika dikenal sebagai filsafat moral yang bertujuan mempelajari fakta pengalaman manusia yang mampu membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, dan hukumnya merupakan wajib untuk dilaksanakan bagi seluruh umat manusia. Hal ini karena manusia dihadapkan pada pilihan mengenai tindakan yang seharusnya dan tidak sepantasnya dilakukan, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
Jika ditinjau dalam bahasa Yunani, maka etika itu berasal dari kata ethos yang artinya watak, perasaan, sikap, perilaku, karakter, tatakrama, tatasusila, sopan santun, cara berpikir dan lain-lain. Sedangkan bentuk jamaknya adalah ta etha yang berarti adat kebiasaan. Seiring dengan perkembangan zaman, kata etika lalu diartikan sebagai ilmu tentang sesuatu kebiasaan yang dilakukan, atau ilmu tentang adat kebiasaan, dan etika juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral.[3][3]
Agar kita memperoleh gambaran serta makna dari etika yang mempunyai implementasi arti sebagai ilmu, adat kebiasaan, filsafat moral dan sistem nilai, lebih jelasnya dapat kita lihat penjelasan berikut:[4][4]
  1. Etika ialah ilmu pengetahuan yang membahas tentang asas-asas akhlak-moral.
  2. Etika adalah sebuah tindakan refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
  3. Etika merupakan suatu ilmu tentang keusilaan yang menentukan bagaimana seharusnya manusia hidup dalam masyarakat mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
  4. Etika juga dapat diartikan sebagai kesusilaan, perasaan batin, atau kecendrungan batin untuk melakukan sesuatu kebaikan.
  5. Etika mempelajari tingkah laku manusia, bukan saja untuk menemukan kebenaran, tetapi juga kebaikan atas perilaku manusia.
  6. Etika memperhatikan serta mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Sehingga etika menghubungkan penggunaan akal budi individu dengan suatu objektivitas sebagai penentu kebenaran atau kesalahan dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain.
  7. Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat yang disebut filsafat moral, yang berhubungan apa yang seharusnya secara moral dikatakan baik atau buruk, tentang karakter seseorang sebagai suatu studi untuk membedakan yang benar dari yang salah, dan yang baik dari yang buruk.
Dari penjelasan diatas banyak sekali kita dapatkan tentang makna etika, baik secara bahasa maupun secara istilah dan definisi. Pada intinya etika merupakan tatanan pergaulan yang melandasi tingkah laku manusia seperti bagaimana seseorang harus bersikap, berprilaku, serta bertanggung jawab, untuk dapat mencapai hubungan yang harmonis antar umat manusia. 






B.     Peranan dan Manfaat Etika
Sebagaimana kita ketahui bahwa etika merupakan tatanan yang melandasi tingkah laku manusia, dan dengan etika agar manusia bertingkah dan bersikap yang lebih baik. Untuk itu etika mempunyai banyak peranan, sebagaimana juga fungsinya yang menjadi suatu media pembimbing tingkah laku manusia, agar menjadi orang yang baik. Dalam hal ini etika dapat dikatakan sebagai pemberi arahan, garis patokan atau pedoman kepada manusia bagaimana sebaiknya bertingkah laku dalam masyarakat.
Sebagai petunjuk, etika memberikan arahan suatu perbuatan apakah itu perbuatan baik, salah, sehingga apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak. Tuntunan, bimbingan ataupun petunjuk sangat diperlukan agar nantinya manusia dapat menjalin hubungan yang baik dan harmonis sesamanya. Sebagai suatu norma, etika menjadi patokan tentang suatu perbuatan yang dilarang, sehingga masyarakat tentu harus mengikuti norma-norma yang berlaku tersebut. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat hidup dengan tertib, teratur, aman dan tentram demi tercapainya kehidupan yang sejahtera, bahagia, dan memperoleh ketenangan hidup bersama. Macam-macam norma: norma hukum, norma agama, norma sopan santun, norma adat, dan norma moral.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata menyebabkan peranan etika juga menjadi semakin menonjol. Hal ini karena kemajuan itu membawa nilai-nilai baru yang tidak sama dengan nilai-nilai lama.
Sebagai halnya dengan peranaan, etika juga mempunyai manfaat bagi manusia secara individu maupun kelompok. Manfaat etika antara lain:[5][5]
  1. Etika dapat mendorong serta mengajak seseorang untuk bersikap kritis dan rasional. Masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan pandangannya sendiri akan tetapi harus dan dapat dipertanggung jawabkan.
  2. Etika juga dapat mengarahkan kepada masyarakat untuk berkembang menjadi masyarakat yang tertib, teratur, damai dengan cara menaati norma-norma yang telah ditetapkan. Dengan taat terhadap norma maka kelalaian-kelalaian yang sering terjadi dapat kembali dipulihkan agar tercipta suasana yang damai dan sejahtera.

C.    Fungsi Etika
Ada beberapa fungsi etika yang sangat perlu untuk diperhatikan oleh setiap masyarakat agar tercipta hidup yang harmonis dan rukun, fungsi tersebut ialah:[6][6]
  1. Etika berfungsi sebagai pembimbing tingkah laku manusia agar dalam mengelola kehidupan ini tidak sampai bersifat tragis dan semena-mena. Etika selalu berusaha mencegah tersebarnya fracticida (act of breaking) yang secara legendaris dan historis mewarnai sejarah hidup manusia.
  2. Dalam dunia pendidikan, fungsi etika sangat penting sekali. Pendidikan yang sangat profesional sekalipun tanpa disertai mengenai pendidikan tentang tanggung jawab serta etika profesional tidaklah lengkap. Karena tanpa adanya landasan etika dan moral dalam mengemban profesi, tidak terbayangkan apa yang akan terjadi jika menimpa para insan mahasiswa sebagai penerus pembangunan bangsa.
  3. Etika juga berfungsi untuk membantu manusia mencari orientasi secara kritis dalam berhadapan dengan moralitas yang membingungkan. Etika merupakan pemikiran sistematis, sedang yang dihasilkannya bukanlah suatu kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis.





ETIKA DALAM AGAMA HINDU DHARMA

 A.    Kerangka Dasar Agama Hindu
Agama Hindu mempunyai bangunan dasar agama yang sangat ketat, hal ini sebagai pedoman bagi umat Hindu dalam menjalankan ibadah serta syariat agamanya sehari-hari. Semua ajaran tentang kerangka dasar ini bersumber dari Kitab Suci Weda dan Kitab-kitab Suci Agama Hindu lainnya. Kerangka dasar agama Hindu tersebut ialah:
  1. Tattwa atau Filsafat Agama Hindu
  2. Susila atau Etika Agama Hindu
  3. Upacara atau Ritual Agama Hindu
Bagi umat Hindu menjalani serta memahami ketiga kerangka dasar tersebut menjadi suatu kewajiban dan sangat penting. Oleh karenanya setiap umat Hindu akan dengan sungguh-sungguh melaksanakan ketiga kewajiban tersebut.
Tattwa merupakan inti ajaran Agama, sedangkan susila sebagai pelaksana ajaran dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Ida Sanghyang Widi, maka dilaksanakan pengorbanan suci yaitu berupa upacara atau ritual.  

B.     Pengertian Etika dalam Agama Hindu
Dalam agama Hindu etika dinamakan susila, yang berasal dari dua suku kata, su yang berarti baik, dan sila berarti kebiasaan atau tingkah laku perbuatan manusia yang baik. Dalam hal ini maka etika dalam agama Hindu dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari tata nilai, tentang baik dan buruknya suatu perbuatan manusia, mengenai apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan, sehingga dengan demikian akan tercipta kehidupan yang rukun dan damai dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya etika merupakan rasa cinta kasih, rasa kasih sayang, dimana seseorang yang menjalani dan melaksanakan etika itu karena ia mencintai dirinya sendiri dan menghargai orang lain.[7][7]
Etika menjadikan kehidupan masyarakat menjadi harmonis, karena saling menjunjung tinggi rasa saling menghargai antar sesama dan saling tolong menolong. Dengan etika akan membina masyarakat untuk menjadi anggota keluarga dan anggota masyarakat yang baik, menjadi warga negara yang mulia.

C.    Tujuan Etika dalam Agama Hindu
Tujuan diperintahkannya untuk menjalankan antara lain:
  1. Untuk membina agar umat Hindu dapat memelihara hubungan baik, hidup rukun dan harmonis di dalam keluarga maupun masyarakat.
  2. Untuk membina agar umat Hindu selalu bersikap dan bertingkah laku yang baik, kepada setiap orang tanpa pandang bulu.
  3. Untuk membina agar umat Hindu dapat menjadi manusia yang baik dan berbudi luhur.
  4. Untuk menghindarkan adanya hukum rimba di masyarakat, dimana yang kuat selalu menindas yang lemah.
Dengan tujuan-tujuan tersebut diharapka umat Hindu menjadi manusia yang berbudi luhur, cinta kedamaian, dan hidup rukun dalam negara dan bangsa.

D.    Etika Dalam Agama Hindu
Etika agama Hindu pada dasarnya mengajarkan aturan tingkah laku yang baik dan mulia. Dengan adanya pedoman tersebut diharapkan seluruh umat hidup dapat menjalani serta memahami secara baik dan benar. Kerangka dasar etika dalam Hindu Dharma antara lain:  

I.   Tri Kaya Parisuda
Tri Kaya Parisuda berasal dari kata tri artinya tiga, kaya berarti tingkah laku dan parisuda mulia atau bersih. Tri Kaya Parisuda dengan demikian berarti tiga tingkah laku yang mulia (baik).[8][8]
Adapun tiga tingkah laku yang baik termaksud adalah:
  1. Manacika (berpikir yang baik dan suci). Seseorang dapat dikatakan manacika apabila ia:
    1. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal.
    2. Tidak berpikir buruk terhadap sesama manusia atau mahluk lainnya.
    3. Yakin dan percaya terhadap hukum karma.
  2. Wacika (berkata yang baik dan benar). Seseorang dapat dinyatakan sebagai wacika, apabila ia:
    1. Tidak mencaci maki orang lain.
    2. Tidak berkata-kata yang kasar kepada orang lain.
    3. Tidak memfitnah atau mengadu domba
    4. Tidak ingkar janji.
  1. Kayika (berbuat yang baik dan jujur). Seseorang dapat dikatakan kayika, manakala ia:
    1. Tidak menyiksa, menyakiti atau membunuh.
    2. Tidak berbuat curang, mencuri atau merampok.
    3. Tidak berzina 

II.  Panca Yama Brata
Panca Yama Brata berasal dari tiga suku kata, yaitu panca berarti lima, yama artinya pengendalian dan brata yang berarti keinginan. Panca Yama Brata ialah lima keinginan untuk mengendalikan diri dari godaan-godaan nafsu yang tidak baik. Lima macam pengendalian diri yang perlu diperhatikan oleh umat Hindu ialah:[9][9]
  1. Ahimsa (tidak menyakiti atau membunuh). Ahimsa berasal dari kata a yang berarti tidak, dan himsa yang berarti membunuh atau menyakiti. Jadi ahimsa berarti tidak membunuh atau tidak menyakiti orang (mahluk) lain. Menyakiti apalagi membunuh adalah suatu perbuatan dosa yang besar dan dilarang oleh Agama Hindu.  
  2. Brahmacari (berpikir suci, bersih dan jernih). Brahmacari berasal dari kata brahma yang berarti ilmu pengetahuan, dan car berarti bergerak. Jadi brahmacari maksudnya bergerak atau bertingkah laku dalam menuntut ilmu pengetahuan. Tegasnya bagaimana perilaku seseorang dalam mempelajari ilmu pengetahuan tentang ajaran-ajaran yang termuat dalam Kitab Suci Weda, harus selalu berpikir bersih dan jernih serta hanya memikirkan pelajaran atau ilmu pengetahuan saja dan tidak memikirkan masalah-masalah keduniawian.  
  3. Satya (kebenaran, kesetiaan dan kejujuran). Ada lima jenis satya yang disebut Panca Satya dan patut diperhatikan oleh umat Hindu, yakni: 
    1. Satya Wacana yaitu setia dan jujur dalam berkata-kata, tidak sombong, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, tidak berkata-kata yang menyakitkan serta tidak memaki.
    2. Satya Hredaya yaitu setia terhadap kata hati dan selalu konsisten atau berpendirian teguh.
    3. Satya Laksana yaitu jujur dan bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan.
    4. Satya Mitra yaitu selalu setia kepada teman dan tidak pernah berkhianat.
    5. Satya Semaya yaitu selalu menepati janji, tidak pernah ingkar kepada janjinya.
  4. Awyawahara (tidak terikat keduniawian). Awyawahara berasal dari kata a yang berarti tidak, dan wyawahara yang artinya terikat dengan kehidupan duniawi. Dengan demikian awyawahara berarti tidak terikat dengan kehidupan duniawi.  
  5. Asteya atau Asteneya (tidak mencuri). Asteya berasal dari kata a yang berarti tidak, dan steya berarti mencuri atau memperkosa milik orang lain. Jadi asteya berarti tidak mencuri atau tidak ingin memiliki barang orang lain.

III. Dasa Yama Brata
Etika Dasa Yama Brata antara lain:[10][10]
  1. Anrsamsa (tidak kejam). Anrsamsa berasal dari kata a yang berarti tidak, dan nrsamsa berarti orang yang kejam. Jadi Anrsamsa berarti orang yang tidak kejam. 
  2. Ksama (pemaaf). Mudah memaafkan kesalahan orang lain merupakan perbuatan yang sangat terpuji. Berbuat keliru adalah sifat manusia, karena setiap orang pernah membuat kesalahan.  
  3. Satya (kebenaran, kesetiaan dan kejujuran)
  4. Ahimsa (tidak menyakiti atau membunuh)
  5. Dama (mengendalikan hawa nafsu)
  6. Arjawa (tetap pendirian)
  7. Priti (welas asih). Memberi perhatian dan bantuan kepada masyarakat yang menghadapi berbagai kesulitan adalah sesuai dengan ajaran agama. Berilah bantuan kepada siapa saja yang memerlukannya. 
  8. Prasada (berpikir jernih dan suci)
    1. Madhurya (ramah tamah). Madhurya berasal dari kata madu yang berarti manis. Madhurya berarti hidup yang manis, maksudnya selalu murah senyum, ramah tamah dengan siapa saja.  
    2. Mardawa (lemah lembut). Orang yang lemah lembut akan disukai oleh kawan-kawannya. Sebaliknya orang yang berperilaku kasar akan dijauhi.  

IV.  Panca Niyama Brata
Panca Niyama Brata adalah lima cara pengendalian diri lanjutan (tahap kedua) untuk dapat tercapainya ketenangan dan ketentraman batin. Kelima cara dimaksud adalah:[11][11]
  1. Akrodha (tidak marah). Akrodha berasal dari kata a yang berarti tidak, dan krodha berarti marah. Jadi Akrodha berarti tidak marah.  
  2. Guru Susrusa (hormat kepada guru). Setiap orang ataupun murid haruslah menghargai dan menghormati gurunya. Pengertian guru disini adalah dalam pengertiannya yang luas, yakni: Guru Rupaka, orang tua (ibu dan bapak); Guru Pengajian, yaitu guru yang memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah; dan Guru Wisesa, yaitu Pemerintah yang mengayomi rakyatnya, yang beusaha mensejahterakan dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya.  
  3. Sauca (bersih atau suci). Manusia seyogyanya berhati bersih atau suci baik lahir maupun batin, jasmani maupun rohani.
  4. Aharalaghawa (makan makanan sederhana). Aharalaghawa berasal dari kata ahard yang berarti makan, dan taghawa yang berarti ringan. Dengan demikian Aharalaghawa berarti makan makanan yang ringan-ringan, yang sederhana atau makan seperlunya dan tidak berlebihan.
  5. Apramadha (tidak mengabaikan kewajiban). Apramada berarti tidak mengabaikan kewajiban, maksudnya selalu ingat dengan tugas kewajiban.



3. SUSILA
1. Pengertian Susila Hindu
           
Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari- hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi- sendi kesusilaan.

Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya, oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur, membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin.

Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". "Su" berarti baik, indah, harmonis. "Sila" berarti perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya.

Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.

Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci.

2. Tri Kaya Parisudha
Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya

3. Panca Yama dan Niyama Brata
Lima kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang.

4. Tri Mala
Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya.

5. Sad Ripu
Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi.


6. Catur Asrama
Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.

7. Catur Purusa Artha
Empat dasar tujuan hidup manusia

8. Catur Warna
Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang.

9. Catur Guru
Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu.

























 

 

4. WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI


Kata Weda berasal dari bahasa sansekerta dari akar kata wid , yang artinya mengetahui sehingga Weda berarti sebuah buku mengenai pengetahuan suci agama.
Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci.
Weda merupakan sumber dari kelima perangkat naskah suci lainnya yang merupakan sumber naskah tentang masalah duniawi dan alam kelepasan (moksa). Weda adalah pengetahuan suci yang luar biasa (Apauru Seda).
Maha Rsi Manu membagi jenis Weda ke dalam dua kelompok besar, yaitu Weda Sruti dan Weda Smriti.
Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti.
Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah.
Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. Baik Sruti maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas.


Srutistu wedo wijneyo dharma
sastram tu wai smerth,
te sarrtheswamimamsye tab
hyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.1o).

Artinya:
Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)


Weda khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam,
acarasca iwa sadhunam
atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).

Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).


Srutir wedah samakhyato
dharmasastram tu wai smrth,
te sarwatheswam imamsye
tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).

Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.

Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha.

A. WEDA SRUTI
 
Weda Sruti adalah kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dari Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya atau Weda Orisinil. Menurut sifat isinya Weda ini dibagi atas 3 macam , antara lain :
1.      Bagian Mantram
2.      Bagian Brahmana (Karma Kanda)
3.      Bagian Upanisad / Arnyaka (Jnana Kanda)

MANTRA

o   Bagian Mantra terdiri dari empat himpunan (Samhita) yang disebut Catur Weda Samhita, Yaitu :
§  Rg. Weda atau Rg. Weda Samhita
§  Sama Weda atau Sama Weda Samhita
§  Yajur Weda atau Yajur Weda Samhita
§  Arthawa Weda atau Artawa Weda Samhita

o   Dari keempat kelompok Weda tersebut, tiga kelompok pertama sering disebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Oleh karena itu disebut Trayi Weda atau Tri Weda

o   Pembagian Kelompok isi Weda, yaitu sebagai berikut :
§  Rg. Weda Samhita merupakan kumpulan mantra – mantra yang memuja ajaran – ajaran umum dalam bentuk pujaan.
§  Sama Weda Samhita merupakan kumpulan mantra – mantra yang memuat ajaran umum mengenai lagu – lagu pujaan atau saman.
§  Yayur Weda Samhita merupakan kumpulan mantra – mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok – pokok yadnya (yajus, pluralnya yajumsi). Jenis Weda ada 2 macam, yaitu :

·         Yajur Weda Hitam (Kresna Yajur Weda) yang terdiri dari beberapa resensi, antara lain Taitriya Samhita dan Maitrayani Samhita
·         Yajur Weda Putih (Sukla Yajur Weda), yang disebut juga Maitrayeni Samhita.
§  Atharwa Weda Samhita merupakan kumpulan mantra – mantra yang bersifat magis (Atharwan)

o   Kitab Rg. Veda merupakan kumpulan dari ayat – ayat tertentu. Sakala, Baskala, Aswalayana, Sankhayayana, dan Madukeya. Dari lima macam resensiyang masih terpelihara adalah resensi Sakala, sedangkan resensi – resensi lainnya banyak yang tidak sempurna lagi karena mantranya hilang.

o   Berdasarkan resensi itu, Rg. Weda Samhita terdiri dari 1.017 hymna atau 1028 mantra termasuk bagian mantra Walakhitanya atau disebut pula terdiri dari 105.801/2 stanza atau 153.862 kata – kata atau 432.000 suku kata.

o   Rg. Weda terbagi atas 10 mandala yang tidak sama panjangnya. Di samping pembagian atau 10 mandala, Rg. Veda terbagi pula atas 8 bagian yang disebut ‘Astaka’ Mandala 2-8 merupakan himpunan ayat – ayat dari keluarga – keluarga maha resi tunggal, sedangkan mandala 1,9,10 merupakan himpunan dari banyak maha resi.

o   Sama Weda terdiri dari 1.810 mantra, atau kadang – kadang ada yang mengatakan 1.875. Sama Weda terbagi atas 2 bagian yaitu sebagai berikut :
§  Bagian Arcika terdiri dari mantra – mantra pujaan yang bersumber pada Rg. Veda

§  Bagian Uttararcika, yaitu himpunan mantra – mantra yang bersifat tambahan. Kitab ini terdiri dari beberapa buku nyanyian pujangga (gana), kitab yang masih kita jumpai, antara lain Ranayaniya, Kautama, dan Jaiminiya (Talawakara)

§  Yajur Weda terdiri dari mantra – mantra yang sebagian besar bersal dari Rg. Veda. Ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. Menurut Bhagawan Patanjali, kitab ini terdiri dari 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Kitab ini terbagi atas dua bagian , yaitu :


·         Yajur Weda Hitam :
o   Katakhassamhita
o   Mapisthalakathasamhita
o   Maitrayamisamhita
o   Taithiriyasahimta. Yang terdiri dari dua aliran , yaitu Apastamba dan Hiranyakesin


·         Yajur Weda Putih (sukla Yajur Weda, juga dikenal Wajasaneyi Samhita). Kitab initerdiri dari dua resensi, yaitu Kanwa dan Madhayandina.

·         Yajur Weda Putih terdiri dari 1.975 mantra yang isinya menguraikan tentang berbagai jenis yadnya besar, seperti Wajapeya, Rajasuya, Asmaweda, Sarmaweda, dan berbagai jenis yadnya lainnya. Bagian Terakhirdari weda ini memuat ayat – ayat yang kemudian dijadikan Isopanisad.

·         Atharwa Weda yang disebut Atharwawedangira, merupakan kumpulan mantra – mantra yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Kitab ini memiliki 5.987 mantra (puisi dan prosa). Kitab ini terpelihara dalam 2 resensi yaitu sebagai berikut :
o   Resensi Saunakka. Resensi ini terbagi atas 21 buku
o   Resensi Plaipplada
·         BRAHMANA


o   Bagian Kedua yang terpenting dari kitab Sruti adalah bagian yang disebut ‘Brahmana’ atau ‘Karma Kanda’ . Himpunan buku – buku ini disebut Brahmana. Tiap – tiap mantra (Rg. Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Brahmana berarti doa. Jadi, kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa – doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yadnya.

o   Kitab Rg. Weda memiliki Dua Jenis Buku Brahmana, Yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Kitab Brahmana yang pertama terdiri dari 40 bab dan yang kedua terdiri dari 30 bab.

o   Kitab Yajur Weda memiliki beberapa kitab ‘Brahmana’ Yajur Weda Hitam (Krsna Yajur Weda) memiliki Taittriya Brahmana

o   Yajur Weda Putih (Sukla Yajur Weda) memiliki satapatha Brahmana. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri dari 100 adhyana.
·         UPANISAD

o   Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra – mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai keTuhanan.


o   Di dalam penelitian berbagai naskah suci Hindu, Dr. G. Sriniwasa Murti di dalam introduksi kitab Saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap – tiap sakha (cabang ilmu) merupakan satu upanisad, antara lain :

§  Rg. Weda terdiri dari 21 Sakha
§  Sama Wedha terdiri dari 1000 sakha
§  Yajur Wedha terdiri dari 109 Sakha
§  Atharwa Wedha terdiri dari 50 sakha


o   Berdasarkan Jumlah sakha, yaitu 1.180 sakha maka jumlah Uphanisad seyognyanya berjumlah 1.180 buah buku. Tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad, jumlah uphanisad disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku . Adapun perincian dari pada kitab – kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut :

·         Upanisad yang tergolong jenis Rg. Weda yaitu Aitareya, Kausitaki, dll

·         Uphanisad yang tergolong Sama Weda yaitu Kena, Chandogya, dll.

·         Uphanisad yang tergolong Yajur Weda, yaitu :
o   Yajur Weda Hitam : Kathawali , Taittriyaka, dll
o   Yajur Weda Putih : Isawasya, Subata, dll.

·         Upanisad yang tergolong Jenis Atharwa Weda , Yaitu :
o   Prana, Munduka , dll.

B. WEDA SMRTI
Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi. Secara garis besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda.

Kelompok Wedangga:
Kata Wedangga, terdiri dari kata Weda dan Angga (bahasa sansekerta). Weda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian atau anggota. Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu:

1.      Siksa (Phonetika)
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.
Adapun Kitab – kitab Pratishakya yang masih sampai saat ini adalah :

·         Rg. Weda Pratishakya
·         Taittriya Pratishakya Sutra
·         Wajasaneyi Pratisahya Sutra
·         Sama Pratisakhya Sutra

·         Atharwa Weda Pratisakhya Sutra

2.      Wyakarana (Tata Bahasa)
Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar.
3.       Chanda (Lagu)
Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.
4.      Nirukta
Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.
Kitab Nirukta hasil karya Begawan Yaska , isinya menguraikan tentang tiga macam suatu hal, yaitu sebagai berikut :


·         Memuat kata- kata yang memiliki arti sama atau Naighantuka Kanda
·         Memuat kata- kata yang memiliki arti ganda atau disebut Naighama Kanda
·         Memuat tentang nama – nama Dewa yang ada di angkasa , bumi , dan surga disebut Daiwatganda
5.       Jyotisa (Astronomi)
Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.

Di antara kitab Jyotisha, yang masih sampai saat ini adalah kitab Jyotisha Wedangga. Kitab ini memiliki hubungan dengan kitab Weda Sruti, Rg. Weda, dan Yajur Weda.
6.       Kalpa
Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa.

Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan upacara keagamaan.


Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga.
Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan Orang Suci yang menuliskan kitab Dharma Sutra Adalah :

·         Bhagawan Manu
·         Bhagawan Apastamba
·         Bhagawan Bhaudhayana
·         Bhagawan Harita
·         Bhagawan Wisnu
·         Bhagawan Wasistha
·         Bhagawan Waikanasa
·         Bhagawan Yajnawalkya
·         Bhagawan Parasara

Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya, bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini, dilalui oleh 4 zaman atau disebut juga Catur Yuga. Bhagawan Shankalikhita menjangkau bahwa masing – masing dari catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya Tersendiri, seperti berikut :

a.      Pada masa Satya/Krtha Yuga berlaku kitab Manawa d\Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Manu

b.      Pada Masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma Sastra yang ditulis Oleh Bhagawan Yajnawalkhya

c.       Pada Masa Dwapara Yuga berlaku kita Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita

d.      Pada masa Kali Yuga dipergunakan Dharma Sastra yang ditulis Oleh Bhagawan Parasara

Sulwasutra, adalah memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.
Kelompok Upaweda:
Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:


1.      Itihasa

Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.

Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. Isinya adalah menceritakan kehidupan  keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata "Iti", "ha" dan "asa" artinya adalah "sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya") maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.


Diantara parwa-parwa tersebut, terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita, yang amat masyur isinya adalah wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.
2.      Purana

Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan.


Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.

Berdasarkan Sifatnya , kedelapanbelas purana tersebut dibagi tiga kelompok yaitu :

1.      Satwika Purana : Wisnu, Narada , Bhagawata, Garuda, Radma, dan Waraha.
2.      Rajasika Purana : Nhrahmanda, Brhrahmawaiwarta, Markandenya Bhawisya, Waruna, dan Brahma
3.      Tamasika Purana : Matsya, Kurma, Lingga, Siwa, Skanda, dan Agni

Kitab Purana sangat pentingkarena memuat cerita – cerita yang menggambarkan pembuktian – pembuktian hokum yang pernah di jalankan. Kitab ini merupakan kumpulan – kumpulan juris Prudensi. Menurut Wisnu Purana III 6.24, meliputi hal- hal sebagai berikut :

·         Cerita mengenai penciptaan dunia
·         Cerita mengenai Pralaya
·         Menjelaskan Silsilah Dewa – dewa atau Bhatara
·         Cerita mengenai zaman Manu atau Manwantara
·         Cerita mengenai silsilah keturunan dan perkembangan dinasti Surya Wangsa dan Candra Wangsa


Isi kitab – kitab purana lainnya memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang cerita kejadian alam semesta, doa – doa dan mantra – mantrauntuk sembahyang, cara melakukan puasa, tata cara upacara keagamaan, dan petunjuk – petunjuk mengenai tata cara melakukan ziarah ke tempat – tempat suci.
 

3.      Arthasastra
Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.

4.      Ayur Weda
Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu:
o   Salya adalah ajaran mengenai ilmu bedah

o   Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit

o   Kayakitsa adalah ajaran mengenai ilmu obat obatan

o   Bhuta Widya adalah ajaran mengenai ilmi Psikoterapi

o   Kaumara Bhrtya adalah ajaran mengenai pendidikan anak – anak dam nerupakan dasar bagi ilmu jiwa anak – anak

o   Aganda Tantra adalah ilmu toksikologi

o   RasayamaTantra adalah ilmu mukzizat

o   Wajikarana Tantra adalah Ilmu Jiwa Remaja


Disamping Ayur Weda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni  :
o    Sutrathana , menguraikan ilmu pengobatan

o    Nidanasthana, memuat penyakit yang bersifat umum

o    Wimanasthana , menguraikan ilmu Panthologi

o    Indhiyastana, materi Diagnosa dan Prognosa

o    Cikitasasthana , pokok- pokok ilmu terapi

o    Kalpasthana, ajaran bidang terapi secara umum

o    Siddisthana, pokok – pokok terapi secara umum

Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda, adalah kitab Yogasara Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan rohani.
Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kitab ini isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum si bidang ilmu bedah. Kitab Susruta Samhita juga mencatat berbagai alat – alat yang digunakan dalam pembedahan
Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana, berhubungan dengan Wajikarana Tantra yang menguraikan tentang ilmu jiwa Remaja.

5.      Gandharwaweda
Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.

6.      Kama Sastra
Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upa Weda). Kama Sastra sebagai bagian darijenis kitab Upa Weda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Asmara , Seni, atau Rasa Indah
Diantaranya kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dari Bhagawan Watsyayana.

7.      Agama
Kitab Agama baru ada setelah agama Hindu berkembang di Dunia.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu adalah disiplin ilmu, karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna.