1. Yadnya
a. Pengertian Yadnya
Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan
dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan
dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Weda). Yadnya dapat pula
diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan),
pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang
dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan
Sang Hyang Widhi Wasa.
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:
- Rasa tulus ikhlas dan kesucian.
- Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara, Leluhur, Negara dan Bangsa, dan kemanusiaan.
- Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing- masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).
- Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran yang abadi.
b. Panca Yadnya
Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang
diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup.
Adapun Panca Yadnya atau Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari:
- Dewa Yadnya.
Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain. - Pitra Yadnya.
lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.
Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: - Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
- Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
- Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
- Manusa Yadnya.
Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah: - Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
- Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
- Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton/ 210 hari).
- Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.
Di
dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut
masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan
kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain
guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan
pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu
(athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita
(Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa
Yadnya.
- Resi Yadnya.
Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: - Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
- Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
- Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
- Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
- Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
- Bhuta Yadnya.
Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur-
unsur Panca Yadnya telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya
tergantung yadnya mana yang diutamakan.
2. Etika
A. Makna Etika
Membicarakan tentang etika, kita akan menemukan banyak
makna yang terkandung dalam kata tersebut. Hal ini karena pada dasarnya setiap
tingkah laku manusia merupakan cerminan kepribadian seseorang itu. Baik
buruknya tingkah laku merupakan manifesto dirinya sendiri. Sehingga sangat
sulit untuk mendeskripsikan tingkah laku seseorang atau masyarakat. Terlepas
dari itu semua, dalam hal ini kita akan membahas mengenai makna etika yang
berkaitan dengan tingkah laku manusia dalam berbagai versi secara umum.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika
mempunyai tiga arti, antara lain:
- Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta hak dan kewajiban moral (akhlak).
- Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
- Nilai yang membahas mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan masyarakat.
Untuk lebih mudah memahami tentang etika, maka makna
etika dapat dibedakan menjadi tiga makna (urutan yang dibalik), yaitu:[1][1]
- Nilai-nilai serta norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok masyarakat dalam mengatur tingkah lakunya. Dalam hal ini etika dirumuskan sebagai sistem nilai yang bisa berfungsi baik dalam kehidupan manusia perseorangan maupun pada tarap sosial.
- Etika merupakan kumpulan asas atau nilai moral, dalam hal ini disebut sebagai kode etik.
- Norma diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang baik atau buruknya tingkah laku seseorang. Disini diartikan sebagai filsafat moral.
Disamping pengertian diatas, makna lain mengenai etika
dapat dijelaskan sebagai berikut.[2][2]
- Etika mempunyai makna sama dengan moral yaitu suatu adat kebiasaan. Moral mengandung makna yang berkenaan dengan perbuatan yang baik dan buruk. Disamping itu dikenal juga konsep moralitas, yaitu sistem nilai yang terkandung dalam petuah, nasihat, perintah atau aturan yang diwariskan secara turun temurun melalui agama atau kebudayaan dan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup agar menjadi lebih baik. Moralitas memberikan manusia petunjuk dan aturan tentang bagaimana harus hidup, bertindak yang baik dan menghindari perilaku yang tidak baik. Moralitas juga dapat diartikan sebagai kualitas perbuatan manusia, sehingga perbuatan manusia dapat dikatakan baik atau buruk, salah atau benar. Dalam hal ini moralitas itu bersumber dari hati nurani. Hati nurani itulah yang memerintahkan atau melarang seseorang untuk melakukan sesuatu. Perbedaan moral dan etika ialah: jika moral bersumber dari diri seseorang yaitu hati nuraninya, sedangkan etika berdasarkan kepada hal-hal diluar dirinya seperti kebiasaan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
- Etika disebut sebagai adat kebiasaan yaitu norma-norma yang dianut oleh kelompok, golongan atau masyarakat tertentu, baik mengenai perbuatan yang baik maupun perbuatan yang bruruk.
- Etika dikenal juga sebagai studi tentang prinsip-prinsip perilaku yang baik dan yang buruk. Dalam hal ini etika dikenal sebagai filsafat moral yang bertujuan mempelajari fakta pengalaman manusia yang mampu membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, dan hukumnya merupakan wajib untuk dilaksanakan bagi seluruh umat manusia. Hal ini karena manusia dihadapkan pada pilihan mengenai tindakan yang seharusnya dan tidak sepantasnya dilakukan, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
Jika ditinjau dalam bahasa Yunani, maka etika itu
berasal dari kata ethos yang artinya watak, perasaan, sikap, perilaku,
karakter, tatakrama, tatasusila, sopan santun, cara berpikir dan lain-lain.
Sedangkan bentuk jamaknya adalah ta etha yang berarti adat kebiasaan.
Seiring dengan perkembangan zaman, kata etika lalu diartikan sebagai ilmu
tentang sesuatu kebiasaan yang dilakukan, atau ilmu tentang adat kebiasaan, dan
etika juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau
moral.[3][3]
Agar kita memperoleh gambaran serta makna dari etika
yang mempunyai implementasi arti sebagai ilmu, adat kebiasaan, filsafat moral
dan sistem nilai, lebih jelasnya dapat kita lihat penjelasan berikut:[4][4]
- Etika ialah ilmu pengetahuan yang membahas tentang asas-asas akhlak-moral.
- Etika adalah sebuah tindakan refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
- Etika merupakan suatu ilmu tentang keusilaan yang menentukan bagaimana seharusnya manusia hidup dalam masyarakat mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
- Etika juga dapat diartikan sebagai kesusilaan, perasaan batin, atau kecendrungan batin untuk melakukan sesuatu kebaikan.
- Etika mempelajari tingkah laku manusia, bukan saja untuk menemukan kebenaran, tetapi juga kebaikan atas perilaku manusia.
- Etika memperhatikan serta mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Sehingga etika menghubungkan penggunaan akal budi individu dengan suatu objektivitas sebagai penentu kebenaran atau kesalahan dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain.
- Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat yang disebut filsafat moral, yang berhubungan apa yang seharusnya secara moral dikatakan baik atau buruk, tentang karakter seseorang sebagai suatu studi untuk membedakan yang benar dari yang salah, dan yang baik dari yang buruk.
Dari penjelasan diatas banyak sekali kita dapatkan
tentang makna etika, baik secara bahasa maupun secara istilah dan definisi.
Pada intinya etika merupakan tatanan pergaulan yang melandasi tingkah laku
manusia seperti bagaimana seseorang harus bersikap, berprilaku, serta
bertanggung jawab, untuk dapat mencapai hubungan yang harmonis antar umat
manusia.
B. Peranan dan Manfaat Etika
Sebagaimana kita ketahui bahwa etika merupakan tatanan
yang melandasi tingkah laku manusia, dan dengan etika agar manusia bertingkah
dan bersikap yang lebih baik. Untuk itu etika mempunyai banyak peranan,
sebagaimana juga fungsinya yang menjadi suatu media pembimbing tingkah laku
manusia, agar menjadi orang yang baik. Dalam hal ini etika dapat dikatakan
sebagai pemberi arahan, garis patokan atau pedoman kepada manusia bagaimana
sebaiknya bertingkah laku dalam masyarakat.
Sebagai petunjuk, etika memberikan arahan suatu
perbuatan apakah itu perbuatan baik, salah, sehingga apakah perbuatan itu boleh
dilakukan atau tidak. Tuntunan, bimbingan ataupun petunjuk sangat diperlukan
agar nantinya manusia dapat menjalin hubungan yang baik dan harmonis sesamanya.
Sebagai suatu norma, etika menjadi patokan tentang suatu perbuatan yang
dilarang, sehingga masyarakat tentu harus mengikuti norma-norma yang berlaku
tersebut. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat hidup dengan tertib, teratur,
aman dan tentram demi tercapainya kehidupan yang sejahtera, bahagia, dan
memperoleh ketenangan hidup bersama. Macam-macam norma: norma hukum, norma
agama, norma sopan santun, norma adat, dan norma moral.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, ternyata menyebabkan peranan etika juga menjadi semakin menonjol.
Hal ini karena kemajuan itu membawa nilai-nilai baru yang tidak sama dengan
nilai-nilai lama.
Sebagai halnya dengan peranaan, etika juga mempunyai
manfaat bagi manusia secara individu maupun kelompok. Manfaat etika antara
lain:[5][5]
- Etika dapat mendorong serta mengajak seseorang untuk bersikap kritis dan rasional. Masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan pandangannya sendiri akan tetapi harus dan dapat dipertanggung jawabkan.
- Etika juga dapat mengarahkan kepada masyarakat untuk berkembang menjadi masyarakat yang tertib, teratur, damai dengan cara menaati norma-norma yang telah ditetapkan. Dengan taat terhadap norma maka kelalaian-kelalaian yang sering terjadi dapat kembali dipulihkan agar tercipta suasana yang damai dan sejahtera.
C. Fungsi Etika
Ada beberapa fungsi etika yang sangat perlu untuk
diperhatikan oleh setiap masyarakat agar tercipta hidup yang harmonis dan
rukun, fungsi tersebut ialah:[6][6]
- Etika berfungsi sebagai pembimbing tingkah laku manusia agar dalam mengelola kehidupan ini tidak sampai bersifat tragis dan semena-mena. Etika selalu berusaha mencegah tersebarnya fracticida (act of breaking) yang secara legendaris dan historis mewarnai sejarah hidup manusia.
- Dalam dunia pendidikan, fungsi etika sangat penting sekali. Pendidikan yang sangat profesional sekalipun tanpa disertai mengenai pendidikan tentang tanggung jawab serta etika profesional tidaklah lengkap. Karena tanpa adanya landasan etika dan moral dalam mengemban profesi, tidak terbayangkan apa yang akan terjadi jika menimpa para insan mahasiswa sebagai penerus pembangunan bangsa.
- Etika juga berfungsi untuk membantu manusia mencari orientasi secara kritis dalam berhadapan dengan moralitas yang membingungkan. Etika merupakan pemikiran sistematis, sedang yang dihasilkannya bukanlah suatu kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis.
ETIKA DALAM AGAMA HINDU DHARMA
A. Kerangka Dasar Agama Hindu
Agama Hindu mempunyai bangunan dasar agama yang sangat
ketat, hal ini sebagai pedoman bagi umat Hindu dalam menjalankan ibadah serta
syariat agamanya sehari-hari. Semua ajaran tentang kerangka dasar ini bersumber
dari Kitab Suci Weda dan Kitab-kitab Suci Agama Hindu lainnya. Kerangka
dasar agama Hindu tersebut ialah:
- Tattwa atau Filsafat Agama Hindu
- Susila atau Etika Agama Hindu
- Upacara atau Ritual Agama Hindu
Bagi umat Hindu menjalani serta memahami ketiga
kerangka dasar tersebut menjadi suatu kewajiban dan sangat penting. Oleh
karenanya setiap umat Hindu akan dengan sungguh-sungguh melaksanakan ketiga
kewajiban tersebut.
Tattwa merupakan inti
ajaran Agama, sedangkan susila sebagai pelaksana ajaran dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Ida Sanghyang
Widi, maka dilaksanakan pengorbanan suci yaitu berupa upacara atau ritual.
B. Pengertian Etika dalam
Agama Hindu
Dalam agama Hindu etika dinamakan susila, yang
berasal dari dua suku kata, su yang berarti baik, dan sila
berarti kebiasaan atau tingkah laku perbuatan manusia yang baik. Dalam hal ini
maka etika dalam agama Hindu dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari tata
nilai, tentang baik dan buruknya suatu perbuatan manusia, mengenai apa yang
harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan, sehingga dengan demikian akan
tercipta kehidupan yang rukun dan damai dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya
etika merupakan rasa cinta kasih, rasa kasih sayang, dimana seseorang yang
menjalani dan melaksanakan etika itu karena ia mencintai dirinya sendiri dan
menghargai orang lain.[7][7]
Etika menjadikan kehidupan masyarakat menjadi
harmonis, karena saling menjunjung tinggi rasa saling menghargai antar sesama
dan saling tolong menolong. Dengan etika akan membina masyarakat untuk menjadi
anggota keluarga dan anggota masyarakat yang baik, menjadi warga negara yang
mulia.
C. Tujuan Etika dalam Agama Hindu
Tujuan diperintahkannya untuk menjalankan antara lain:
- Untuk membina agar umat Hindu dapat memelihara hubungan baik, hidup rukun dan harmonis di dalam keluarga maupun masyarakat.
- Untuk membina agar umat Hindu selalu bersikap dan bertingkah laku yang baik, kepada setiap orang tanpa pandang bulu.
- Untuk membina agar umat Hindu dapat menjadi manusia yang baik dan berbudi luhur.
- Untuk menghindarkan adanya hukum rimba di masyarakat, dimana yang kuat selalu menindas yang lemah.
Dengan tujuan-tujuan tersebut diharapka umat Hindu
menjadi manusia yang berbudi luhur, cinta kedamaian, dan hidup rukun dalam
negara dan bangsa.
D. Etika Dalam Agama Hindu
Etika agama Hindu pada dasarnya mengajarkan aturan
tingkah laku yang baik dan mulia. Dengan adanya pedoman tersebut diharapkan
seluruh umat hidup dapat menjalani serta memahami secara baik dan benar.
Kerangka dasar etika dalam Hindu Dharma antara lain:
I. Tri Kaya Parisuda
Tri Kaya Parisuda berasal dari kata tri
artinya tiga, kaya berarti tingkah laku dan parisuda mulia atau
bersih. Tri Kaya Parisuda dengan demikian berarti tiga tingkah laku yang
mulia (baik).[8][8]
Adapun tiga tingkah laku yang baik termaksud adalah:
- Manacika (berpikir yang baik dan suci). Seseorang dapat dikatakan manacika apabila ia:
- Tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal.
- Tidak berpikir buruk terhadap sesama manusia atau mahluk lainnya.
- Yakin dan percaya terhadap hukum karma.
- Wacika (berkata yang baik dan benar). Seseorang dapat dinyatakan sebagai wacika, apabila ia:
- Tidak mencaci maki orang lain.
- Tidak berkata-kata yang kasar kepada orang lain.
- Tidak memfitnah atau mengadu domba
- Tidak ingkar janji.
- Kayika (berbuat yang baik dan jujur). Seseorang dapat dikatakan kayika, manakala ia:
- Tidak menyiksa, menyakiti atau membunuh.
- Tidak berbuat curang, mencuri atau merampok.
- Tidak berzina
II. Panca Yama Brata
Panca Yama Brata berasal dari tiga
suku kata, yaitu panca berarti lima, yama artinya pengendalian
dan brata yang berarti keinginan. Panca Yama Brata ialah lima
keinginan untuk mengendalikan diri dari godaan-godaan nafsu yang tidak baik.
Lima macam pengendalian diri yang perlu diperhatikan oleh umat Hindu ialah:[9][9]
- Ahimsa (tidak menyakiti atau membunuh). Ahimsa berasal dari kata a yang berarti tidak, dan himsa yang berarti membunuh atau menyakiti. Jadi ahimsa berarti tidak membunuh atau tidak menyakiti orang (mahluk) lain. Menyakiti apalagi membunuh adalah suatu perbuatan dosa yang besar dan dilarang oleh Agama Hindu.
- Brahmacari (berpikir suci, bersih dan jernih). Brahmacari berasal dari kata brahma yang berarti ilmu pengetahuan, dan car berarti bergerak. Jadi brahmacari maksudnya bergerak atau bertingkah laku dalam menuntut ilmu pengetahuan. Tegasnya bagaimana perilaku seseorang dalam mempelajari ilmu pengetahuan tentang ajaran-ajaran yang termuat dalam Kitab Suci Weda, harus selalu berpikir bersih dan jernih serta hanya memikirkan pelajaran atau ilmu pengetahuan saja dan tidak memikirkan masalah-masalah keduniawian.
- Satya (kebenaran, kesetiaan dan kejujuran). Ada lima jenis satya yang disebut Panca Satya dan patut diperhatikan oleh umat Hindu, yakni:
- Satya Wacana yaitu setia dan jujur dalam berkata-kata, tidak sombong, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, tidak berkata-kata yang menyakitkan serta tidak memaki.
- Satya Hredaya yaitu setia terhadap kata hati dan selalu konsisten atau berpendirian teguh.
- Satya Laksana yaitu jujur dan bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan.
- Satya Mitra yaitu selalu setia kepada teman dan tidak pernah berkhianat.
- Satya Semaya yaitu selalu menepati janji, tidak pernah ingkar kepada janjinya.
- Awyawahara (tidak terikat keduniawian). Awyawahara berasal dari kata a yang berarti tidak, dan wyawahara yang artinya terikat dengan kehidupan duniawi. Dengan demikian awyawahara berarti tidak terikat dengan kehidupan duniawi.
- Asteya atau Asteneya (tidak mencuri). Asteya berasal dari kata a yang berarti tidak, dan steya berarti mencuri atau memperkosa milik orang lain. Jadi asteya berarti tidak mencuri atau tidak ingin memiliki barang orang lain.
III. Dasa Yama Brata
Etika Dasa Yama Brata antara lain:[10][10]
- Anrsamsa (tidak kejam). Anrsamsa berasal dari kata a yang berarti tidak, dan nrsamsa berarti orang yang kejam. Jadi Anrsamsa berarti orang yang tidak kejam.
- Ksama (pemaaf). Mudah memaafkan kesalahan orang lain merupakan perbuatan yang sangat terpuji. Berbuat keliru adalah sifat manusia, karena setiap orang pernah membuat kesalahan.
- Satya (kebenaran, kesetiaan dan kejujuran)
- Ahimsa (tidak menyakiti atau membunuh)
- Dama (mengendalikan hawa nafsu)
- Arjawa (tetap pendirian)
- Priti (welas asih). Memberi perhatian dan bantuan kepada masyarakat yang menghadapi berbagai kesulitan adalah sesuai dengan ajaran agama. Berilah bantuan kepada siapa saja yang memerlukannya.
- Prasada (berpikir jernih dan suci)
- Madhurya (ramah tamah). Madhurya berasal dari kata madu yang berarti manis. Madhurya berarti hidup yang manis, maksudnya selalu murah senyum, ramah tamah dengan siapa saja.
- Mardawa (lemah lembut). Orang yang lemah lembut akan disukai oleh kawan-kawannya. Sebaliknya orang yang berperilaku kasar akan dijauhi.
IV. Panca Niyama Brata
Panca Niyama Brata adalah lima cara
pengendalian diri lanjutan (tahap kedua) untuk dapat tercapainya ketenangan dan
ketentraman batin. Kelima cara dimaksud adalah:[11][11]
- Akrodha (tidak marah). Akrodha berasal dari kata a yang berarti tidak, dan krodha berarti marah. Jadi Akrodha berarti tidak marah.
- Guru Susrusa (hormat kepada guru). Setiap orang ataupun murid haruslah menghargai dan menghormati gurunya. Pengertian guru disini adalah dalam pengertiannya yang luas, yakni: Guru Rupaka, orang tua (ibu dan bapak); Guru Pengajian, yaitu guru yang memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah; dan Guru Wisesa, yaitu Pemerintah yang mengayomi rakyatnya, yang beusaha mensejahterakan dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya.
- Sauca (bersih atau suci). Manusia seyogyanya berhati bersih atau suci baik lahir maupun batin, jasmani maupun rohani.
- Aharalaghawa (makan makanan sederhana). Aharalaghawa berasal dari kata ahard yang berarti makan, dan taghawa yang berarti ringan. Dengan demikian Aharalaghawa berarti makan makanan yang ringan-ringan, yang sederhana atau makan seperlunya dan tidak berlebihan.
- Apramadha (tidak mengabaikan kewajiban). Apramada berarti tidak mengabaikan kewajiban, maksudnya selalu ingat dengan tugas kewajiban.
3. SUSILA
1. Pengertian Susila Hindu
Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu
yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata
kehidupan manusia sehari- hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam
berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi
pekerti yang bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala
dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah
sikap simpatik yang memegang teguh sendi- sendi kesusilaan.
Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa
agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya,
oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti
yang luhur, membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan
lahir dan batin.
Kata Susila terdiri dari dua suku kata:
"Su" dan "Sila". "Su" berarti baik, indah,
harmonis. "Sila" berarti perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah
tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam
mengadakan hubungan dengan lingkungannya.
Pengertian Susila menurut pandangan Agama
Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis
antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas
korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.
Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada
ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala
makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya
menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian
diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar
pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai
upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci.
2. Tri Kaya Parisudha
Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis
perbuatan yang merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh
setiap individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya
3. Panca Yama dan Niyama Brata
Lima kebaikan yang harus dilakukan dan 5
keburukan yang harus dipantang.
4. Tri Mala
Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi
manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil- kecilnya.
5. Sad Ripu
Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri
manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi.
6. Catur Asrama
Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama
Hindu, disesuaikan dengan tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi
prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.
7. Catur Purusa Artha
Empat dasar tujuan hidup manusia
8. Catur Warna
Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau
empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan
(karma) seseorang.
9. Catur Guru
Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang
Hindu.
4. WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI
Kata Weda berasal dari bahasa sansekerta dari
akar kata wid , yang artinya
mengetahui sehingga Weda berarti sebuah buku mengenai pengetahuan suci agama.
Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa
Sansekerta, Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang
penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih
menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka
bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda
Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini.
Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa.
Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci.
Weda merupakan sumber dari kelima perangkat
naskah suci lainnya yang merupakan sumber naskah tentang masalah duniawi dan
alam kelepasan (moksa). Weda adalah pengetahuan suci yang luar biasa (Apauru Seda).
Maha Rsi Manu membagi jenis Weda ke dalam dua
kelompok besar, yaitu Weda Sruti dan Weda Smriti.
Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai
aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas
lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi jenis isi
Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti.
Pembagian ini juga dipergunakan untuk
menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang
telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun
temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional
ilmiah.
Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat
wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi
merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan
Sruti. Baik Sruti maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang
tidak boleh diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas
pernyataan di atas.
Srutistu wedo wijneyo dharma
sastram tu wai smerth,
te sarrtheswamimamsye tab
hyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.1o).
Artinya:
Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)
Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)
Weda khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam,
acarasca iwa sadhunam
atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).
Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).
Srutir wedah samakhyato
dharmasastram tu wai smrth,
te sarwatheswam imamsye
tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).
Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.
Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan
Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh
dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya
dituruti ajarannya untuk setiap usaha.
A.
WEDA SRUTI
Weda Sruti adalah kelompok Weda yang ditulis
oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dari Wahyu Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya
atau Weda Orisinil. Menurut sifat isinya Weda ini dibagi atas 3 macam , antara
lain :
1.
Bagian Mantram
2.
Bagian Brahmana (Karma Kanda)
3.
Bagian Upanisad / Arnyaka (Jnana Kanda)
MANTRA
o Bagian Mantra
terdiri dari empat himpunan (Samhita) yang disebut Catur Weda Samhita, Yaitu :
§ Rg. Weda atau Rg. Weda Samhita
§ Sama Weda atau Sama Weda Samhita
§ Yajur Weda atau Yajur Weda Samhita
§ Arthawa Weda atau Artawa Weda Samhita
o Dari keempat
kelompok Weda tersebut, tiga kelompok pertama sering disebut sebagai mantra yang
berdiri sendiri. Oleh karena itu disebut Trayi Weda atau Tri Weda
o Pembagian Kelompok
isi Weda, yaitu sebagai berikut :
§ Rg. Weda Samhita merupakan kumpulan mantra –
mantra yang memuja ajaran – ajaran umum dalam bentuk pujaan.
§ Sama Weda Samhita merupakan kumpulan mantra –
mantra yang memuat ajaran umum mengenai lagu – lagu pujaan atau saman.
§ Yayur Weda Samhita merupakan kumpulan mantra
– mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok – pokok yadnya (yajus,
pluralnya yajumsi). Jenis Weda ada 2 macam, yaitu :
·
Yajur Weda Hitam (Kresna Yajur Weda) yang terdiri dari
beberapa resensi, antara lain Taitriya Samhita dan Maitrayani Samhita
·
Yajur Weda Putih (Sukla Yajur Weda), yang disebut juga
Maitrayeni Samhita.
§ Atharwa Weda Samhita merupakan kumpulan
mantra – mantra yang bersifat magis (Atharwan)
o Kitab Rg. Veda
merupakan kumpulan dari ayat – ayat tertentu. Sakala, Baskala, Aswalayana,
Sankhayayana, dan Madukeya. Dari lima macam resensiyang masih terpelihara
adalah resensi Sakala, sedangkan resensi – resensi lainnya banyak yang tidak
sempurna lagi karena mantranya hilang.
o Berdasarkan resensi
itu, Rg. Weda Samhita terdiri dari 1.017 hymna atau 1028 mantra termasuk bagian
mantra Walakhitanya atau disebut pula terdiri dari 105.801/2 stanza atau
153.862 kata – kata atau 432.000 suku kata.
o Rg. Weda terbagi
atas 10 mandala yang tidak sama panjangnya. Di samping pembagian atau 10
mandala, Rg. Veda terbagi pula atas 8 bagian yang disebut ‘Astaka’ Mandala 2-8
merupakan himpunan ayat – ayat dari keluarga – keluarga maha resi tunggal,
sedangkan mandala 1,9,10 merupakan himpunan dari banyak maha resi.
o Sama Weda terdiri
dari 1.810 mantra, atau kadang – kadang ada yang mengatakan 1.875. Sama Weda
terbagi atas 2 bagian yaitu sebagai berikut :
§ Bagian Arcika terdiri dari mantra – mantra
pujaan yang bersumber pada Rg. Veda
§ Bagian Uttararcika, yaitu himpunan mantra –
mantra yang bersifat tambahan. Kitab ini terdiri dari beberapa buku nyanyian
pujangga (gana), kitab yang masih kita jumpai, antara lain Ranayaniya, Kautama,
dan Jaiminiya (Talawakara)
§ Yajur Weda terdiri dari mantra – mantra yang
sebagian besar bersal dari Rg. Veda. Ditambah dengan beberapa mantra tambahan
baru. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. Menurut Bhagawan Patanjali, kitab
ini terdiri dari 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Kitab ini
terbagi atas dua bagian , yaitu :
·
Yajur Weda Hitam :
o Katakhassamhita
o Mapisthalakathasamhita
o Maitrayamisamhita
o Taithiriyasahimta.
Yang terdiri dari dua aliran , yaitu Apastamba dan Hiranyakesin
·
Yajur Weda Putih (sukla Yajur Weda, juga dikenal
Wajasaneyi Samhita). Kitab initerdiri dari dua resensi, yaitu Kanwa dan
Madhayandina.
·
Yajur Weda Putih terdiri dari 1.975 mantra yang isinya
menguraikan tentang berbagai jenis yadnya besar, seperti Wajapeya, Rajasuya,
Asmaweda, Sarmaweda, dan berbagai jenis yadnya lainnya. Bagian Terakhirdari
weda ini memuat ayat – ayat yang kemudian dijadikan Isopanisad.
·
Atharwa Weda yang disebut Atharwawedangira, merupakan
kumpulan mantra – mantra yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Kitab ini
memiliki 5.987 mantra (puisi dan prosa). Kitab ini terpelihara dalam 2 resensi
yaitu sebagai berikut :
o Resensi Saunakka.
Resensi ini terbagi atas 21 buku
o Resensi Plaipplada
·
BRAHMANA
o Bagian Kedua yang
terpenting dari kitab Sruti adalah bagian yang disebut ‘Brahmana’ atau ‘Karma
Kanda’ . Himpunan buku – buku ini disebut Brahmana. Tiap – tiap mantra (Rg.
Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Brahmana
berarti doa. Jadi, kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa – doa
yang dipergunakan untuk keperluan upacara yadnya.
o Kitab Rg. Weda
memiliki Dua Jenis Buku Brahmana, Yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki
Brahmana (Sankyana Brahmana). Kitab Brahmana yang pertama terdiri dari 40 bab
dan yang kedua terdiri dari 30 bab.
o Kitab Yajur Weda
memiliki beberapa kitab ‘Brahmana’ Yajur Weda Hitam (Krsna Yajur Weda) memiliki
Taittriya Brahmana
o Yajur Weda Putih
(Sukla Yajur Weda) memiliki satapatha Brahmana. Nama ini disebut demikian
karena kitab ini terdiri dari 100 adhyana.
·
UPANISAD
o Aranyaka atau
Upanisad adalah himpunan mantra – mantra yang membahas berbagai aspek teori
mengenai keTuhanan.
o Di dalam penelitian
berbagai naskah suci Hindu, Dr. G. Sriniwasa Murti di dalam introduksi kitab
Saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap – tiap sakha (cabang ilmu) merupakan
satu upanisad, antara lain :
§ Rg. Weda terdiri dari 21 Sakha
§ Sama Wedha terdiri dari 1000 sakha
§ Yajur Wedha terdiri dari 109 Sakha
§ Atharwa Wedha terdiri dari 50 sakha
o Berdasarkan Jumlah
sakha, yaitu 1.180 sakha maka jumlah Uphanisad seyognyanya berjumlah 1.180 buah
buku. Tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad, jumlah uphanisad disebut
secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku . Adapun perincian dari pada kitab –
kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut :
·
Upanisad yang tergolong jenis Rg. Weda yaitu Aitareya,
Kausitaki, dll
·
Uphanisad yang tergolong Sama Weda yaitu Kena, Chandogya,
dll.
·
Uphanisad yang tergolong Yajur Weda, yaitu :
o Yajur Weda Hitam :
Kathawali , Taittriyaka, dll
o Yajur Weda Putih :
Isawasya, Subata, dll.
·
Upanisad yang tergolong Jenis Atharwa Weda , Yaitu :
o Prana, Munduka ,
dll.
B. WEDA SMRTI
Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan
ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara
sistematis menurut bidang profesi. Secara garis besarnya Smerti dapat
digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok Wedangga (Sadangga),
dan kelompok Upaweda.
Kelompok Wedangga:
Kata Wedangga, terdiri dari kata Weda dan Angga (bahasa
sansekerta). Weda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian atau
anggota. Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang
Weda yaitu:
1. Siksa
(Phonetika)
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.
Adapun Kitab – kitab Pratishakya yang masih sampai saat
ini adalah :
·
Rg. Weda Pratishakya
·
Taittriya Pratishakya Sutra
·
Wajasaneyi Pratisahya Sutra
·
Sama Pratisakhya Sutra
·
Atharwa Weda Pratisakhya Sutra
2. Wyakarana
(Tata Bahasa)
Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar.
Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar.
3. Chanda
(Lagu)
Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.
Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.
4. Nirukta
Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.
Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.
Kitab Nirukta hasil karya Begawan Yaska , isinya
menguraikan tentang tiga macam suatu hal, yaitu sebagai berikut :
·
Memuat kata- kata yang memiliki arti sama atau
Naighantuka Kanda
·
Memuat kata- kata yang memiliki arti ganda atau disebut
Naighama Kanda
·
Memuat tentang nama – nama Dewa yang ada di angkasa ,
bumi , dan surga disebut Daiwatganda
5. Jyotisa
(Astronomi)
Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.
Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.
Di antara kitab Jyotisha, yang masih sampai saat ini
adalah kitab Jyotisha Wedangga. Kitab ini memiliki hubungan dengan kitab Weda
Sruti, Rg. Weda, dan Yajur Weda.
6. Kalpa
Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa.
Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa.
Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara
melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan
upacara keagamaan.
Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan
pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga.
Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang
peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan Orang Suci yang menuliskan
kitab Dharma Sutra Adalah :
·
Bhagawan Manu
·
Bhagawan Apastamba
·
Bhagawan Bhaudhayana
·
Bhagawan Harita
·
Bhagawan Wisnu
·
Bhagawan Wasistha
·
Bhagawan Waikanasa
·
Bhagawan Yajnawalkya
·
Bhagawan Parasara
Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya, bahwa dalam hidup
dan kehidupan kita ini, dilalui oleh 4 zaman atau disebut juga Catur Yuga.
Bhagawan Shankalikhita menjangkau bahwa masing – masing dari catur Yuga
mempunyai Dharma Sastranya Tersendiri, seperti berikut :
a. Pada
masa Satya/Krtha Yuga berlaku kitab Manawa d\Dharma Sastra yang ditulis oleh
Bhagawan Manu
b. Pada
Masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma Sastra yang ditulis Oleh Bhagawan
Yajnawalkhya
c. Pada
Masa Dwapara Yuga berlaku kita Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita
d. Pada
masa Kali Yuga dipergunakan Dharma Sastra yang ditulis Oleh Bhagawan Parasara
Sulwasutra, adalah memuat peraturan-peraturan mengenai
tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan
bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.
Kelompok Upaweda:
Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1. Itihasa
Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.
Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. Isinya adalah menceritakan kehidupan keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata "Iti", "ha" dan "asa" artinya adalah "sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya") maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.
Diantara parwa-parwa tersebut, terutama di dalam
Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita, yang amat masyur isinya adalah
wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.
2.
Purana
Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan.
Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran
yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra
untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan
petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat
suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok
ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu.
Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma
Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma
Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana,
Skanda Purana dan Agni Purana.
Berdasarkan Sifatnya , kedelapanbelas purana tersebut
dibagi tiga kelompok yaitu :
1.
Satwika Purana : Wisnu, Narada , Bhagawata, Garuda,
Radma, dan Waraha.
2.
Rajasika Purana : Nhrahmanda, Brhrahmawaiwarta,
Markandenya Bhawisya, Waruna, dan Brahma
3.
Tamasika Purana : Matsya, Kurma, Lingga, Siwa, Skanda,
dan Agni
Kitab Purana sangat pentingkarena memuat cerita – cerita
yang menggambarkan pembuktian – pembuktian hokum yang pernah di jalankan. Kitab
ini merupakan kumpulan – kumpulan juris Prudensi. Menurut Wisnu Purana III
6.24, meliputi hal- hal sebagai berikut :
·
Cerita mengenai penciptaan dunia
·
Cerita mengenai Pralaya
·
Menjelaskan Silsilah Dewa – dewa atau Bhatara
·
Cerita mengenai zaman Manu atau Manwantara
·
Cerita mengenai silsilah keturunan dan perkembangan
dinasti Surya Wangsa dan Candra Wangsa
Isi kitab – kitab purana lainnya memuat pokok-pokok
pemikiran yang menguraikan tentang cerita kejadian alam semesta, doa – doa dan
mantra – mantrauntuk sembahyang, cara melakukan puasa, tata cara upacara
keagamaan, dan petunjuk – petunjuk mengenai tata cara melakukan ziarah ke
tempat – tempat suci.
3. Arthasastra
Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.
Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.
4. Ayur
Weda
Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu:
Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu:
o Salya
adalah ajaran mengenai ilmu bedah
o Salkya
adalah ajaran mengenai ilmu penyakit
o Kayakitsa
adalah ajaran mengenai ilmu obat obatan
o Bhuta
Widya adalah ajaran mengenai ilmi Psikoterapi
o Kaumara
Bhrtya adalah ajaran mengenai pendidikan anak – anak dam nerupakan dasar bagi
ilmu jiwa anak – anak
o Aganda
Tantra adalah ilmu toksikologi
o RasayamaTantra
adalah ilmu mukzizat
o Wajikarana
Tantra adalah Ilmu Jiwa Remaja
Disamping Ayur Weda, ada pula kitab Caraka Samhita yang
ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran
(ilmu), yakni :
o Sutrathana
, menguraikan ilmu pengobatan
o Nidanasthana,
memuat penyakit yang bersifat umum
o Wimanasthana
, menguraikan ilmu Panthologi
o Indhiyastana,
materi Diagnosa dan Prognosa
o Cikitasasthana
, pokok- pokok ilmu terapi
o Kalpasthana,
ajaran bidang terapi secara umum
o Siddisthana,
pokok – pokok terapi secara umum
Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda, adalah kitab
Yogasara Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat
pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting
artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan rohani.
Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta.
Kitab ini isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum si bidang ilmu
bedah. Kitab Susruta Samhita juga mencatat berbagai alat – alat yang digunakan
dalam pembedahan
Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana,
berhubungan dengan Wajikarana Tantra yang menguraikan tentang ilmu jiwa Remaja.
5. Gandharwaweda
Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.
Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.
6. Kama
Sastra
Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada
bagian Smrti (Upa Weda). Kama Sastra sebagai bagian darijenis kitab Upa Weda
isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Asmara ,
Seni, atau Rasa Indah
Diantaranya kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya
dari Bhagawan Watsyayana.
7. Agama
Kitab Agama baru ada setelah agama Hindu berkembang di
Dunia.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda
Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang
tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama
dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga,
Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang
mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Dengan
uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup seluruh
aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu adalah disiplin ilmu,
karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti
pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi
Weda secara sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar